Pages: (5) [1] 2 3 ... Last » ( Go to first unread post )

 [KPop] :: One Summer ::, [TVXQ YooChun, General, Drama comedy]
ChibiChick
  Posted: Jul 22 2008, 10:33 AM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



OMG OMG udah berapa juta taun gue nggak kesini.... huehuehuehuehue rolleyes.gif
I miss this place.
Well, secara ini birthday project gue, jadi gue akan post fanfic ini...
Jangan dicela, yaaa.... Emang sih ajaib banget gue bikin ff tentang TVXQ... tapi kan banyak yang suka TVXQ.. Hehehehe.
Whatever,lah. Komen dan kritik dankecamannya gue tunggu, karena gue kan bukan 'orang paling ignorant sedunia' (kalo kata Cincha Lawra). LMAO.

***
[EDITED]
Yes, ini Forum Fiction Fetish, dan yes, ini bukan forum umum yang aturannya kacrut.
And YES! Cindy, YooChun, Sassy, Ryan dan teman-teman ada di sini! wink.gif
Enjoy!

:: ONE SUMMER OF MICKY AND CINDY ::

Scene – 1

Kalau lagi liburan, biasanya suka jadi bingung mau ngapain. Serius deh. Kaya gue sekarang ini. Semua temen-temen gue pada sibuk liburan sendiri-sendiri. Dan di Jakarta ini, apa yang asik sih kalau dilakuin sendirian?
Oke. Ada sih. Seperti ngopi di Starbucks sambil baca novel favorit, misalnya. Yah, sebenernya memang lebih asik ngopi di Starbucks sambil ngegosipin cowok-cowok ganteng ama temen-temen, tapi berhubung kondisi gue sekarang ini tanpa temen alias lonely, jadi yah puas aja deh sambil baca novel. Yah... bisa lah cuci mata sedikit. Tapi tetep, sendirian. Hiks.
Jadi itulah tepatnya yang gue lakukan. Ngopi di Starbucks sambil baca novel favorit gue, yang walaupun udah ratusan kali gue baca, tapi tetep aja gue baca lagi tanpa bosen-bosennya. Dan sendirian, yes, karena hari ini hari Senin. Kebanyakan anak sekolah pada sekolah (tentunya), dan anak kuliah juga... kuliah. Kenapa gue pagi-pagi buta (maksud gue, sekitar jam 10 pagi. Untuk ukuran anak mall, jam segini ini berarti subuh) udah nongkrong nggak jelas di pojokan kedai kopi di mall tengah kota Jakarta ini? Karena kuliah gue baru mulai minggu depan. Dan gue bener-bener nggak ada kerjaan sementara temen-temen gue udah pada sibuk sendiri-sendiri. Ya sudah lah ya. Cuci mata tetep bisa dilakukan dengan atau tanpa teman-teman, bukan.
Ngomong-ngomong soal cuci mata ya, tadi gue sempet ngeliat ada seorang cowok lucu (baca : imut) yang dateng ama seorang cowok nggak begitu lucu (baca : nggak imut) dan duduk di pojokan Starbucks. Sebenernya gue cukup konsen baca novel, tapi secara dua cowok itu melewati tempat duduk gue dan ngeloyor ke sofa pojokan sambil berbicara dalam bahasa Korea, mau nggak mau perhatian gue sempat teralih. Telinga gue cukup sensitif kalau mendengar percakapan dalam bahasa asing, alias bukan bahasa Indonesia. Mungkin karena sehari-hari gue hidup diantara orang-orang yang berbahasa macem-macem, jadi telinga gue sudah terlatih mendengar dan memilah-milah bahasa tertentu.
Dan gue sangat yakin kalau dua cowok itu berbicara dalam bahasa Korea, karena walaupun gue nggak bisa berbahasa Korea, paling nggak gue sangat familiar dengan lagu-lagu dan drama-drama Korea. Korean wave memang dahsyat.
Ehm, kembali ke dua cowok itu. Setelah beberapa menit kembali konsen ke novel gue, tanpa sadar gue menengok lagi ke pojokan tempat mereka duduk. Eh, ternyata si cowok nggak imutnya udah ilang, jadi tinggal si cowok imut itu doang. Hore!
Lho, kok hore. Ya nggak apa-apa sih. Paling nggak mata gue bisa puas ngecengin tanpa harus terganggu pemandangan lain yang tidak begitu indah. Dan untung buat gue, karena gue duduk dekat dengan pojokan itu, jadi kayanya yang bisa ngecengin dengan puas dan leluasa cuma gue deh. Kalau yang duduk di tempat lain kayanya musti usahaaa banget, secara kehalang tembok, gitu.
Kalau dilihat-lihat, memang pantes sih cowok imut itu dibilang orang Korea. Kulitnya putiiih banget... Dan bibirnya merah.. Imuuut banget... Mirip.. hmm... mirip siapa ya... Kaya artis gitu deh...
Eh... Ehhh...

EEEHHHH.
Gue mulai ngucek-ngucek mata gue. Ini entah gue yang berhalusinasi, atau gue mulai gila karena pengaruh kafein (bohong ding, gue selalu pesan green tea frappuccino kalau ke Starbucks. Boro-boro kafein. Gula sih iya) yang gue minum. Atau memang keajaiban itu ada (halah).
Tapi cowok imut yang sedang gue kecengin itu kok mirip ama Micky YooChun, ya.
Itu lho, Micky YooChun yang personelnya TVXQ.
Gue memang bukan fans berat TVXQ, tapi gue punya semua albumnya dan gue hafal tampang-tampangnya. Tapi suer, gue bukan fans TVXQ! Gue cuma... suka lagu-lagunya aja.
Jadi ngapain juga gue memirip-miripkan cowok imut itu ama Micky YooChun.
Hahaha. Gue memang mulai berhalusinasi.
Tapiiiii beneran deh mirip banget. Atau jangan-jangan semua cowok Korea itu memang kaya gitu yah. Mirip semua ama artis? Hmm. Bisa jadi.
Kalau dilihat-lihat (masih, gue masih curi-curi pandang – nggak ding, gue beneran melototin) cowok itu kelihatannya lonely juga. Dari tadi bengong. Mungkin dia lagi nungguin si cowok nggak imut itu. Sesekali mainin handphone. Hmm. Gemes juga rasanya.
Kalau gue nyamperin dan ngajak kenalan, kira-kira dia bakal nganggep gue gila, nggak ya?
Abisnya mirip banget ama Micky YooChun. Gue jadi penasaran. Siapa tau sodara. Ya kan?
Dan karena gue kesepian, nganggur, nggak ada kerjaan, mulai terkena efek sugar-high, dan memang gue nggak tau malu juga sih, akhirnya gue memutuskan untuk nyamperin cowok imut itu dan ngajak kenalan.
Ah what the hell. Kalau dia nolak juga nggak ada yang tau. Pura-pura salah orang aja.
Dan kalau ternyata dia mau diajak kenalan, ya bagus kan!
Gue mulai menutup novel gue, dan mengambil frappuccino gue yang tinggal setengah gelas.
Ehm-hm. Siap? Come on, Cindy! Cowok ganteng sendirian nih! Mangsa bagus!
Gue berdiri dan menghampiri meja si cowok imut-mirip-Micky YooChun itu.

“Hi.”
Cowok imut yang sedang memainkan handphone itu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah gue. Oh my God, beneran imut banget, dan miriiiipp banget ama Micky YooChun!
“Yes?” Kayanya dia bingung melihat gue tiba-tiba nongol di depan dia.
Aduh, bego. Gue kan nggak bisa bahasa Korea. Hm. Moga-moga dia bisa bahasa Inggris.
“Hmm… hi. I’m Cindy. Are you.. I mean, sorry, but you look like Micky YooChun.”
Oke, gue mulai belagak gila.
Dan gue mulai cengengesan nggak jelas. Cowok ini pasti mulai menganggap gue sinting.
Eh, dia senyum!
“Hi. I am Micky YooChun.”
Ha?
Idih. Serius lo? Atau Cuma kege-eran aja ni cowok? Pake ngaku-ngaku segala. Gue mulai ketawa-ketawa (serius deh, kalau orang lain liat, gue pasti udah diseret ke rumah sakit jiwa).
“Hahaha, okay. Seriously. Why Micky YooChun is in Jakarta, anyway. Do you know Micky YooChun? I mean, the guy from TVXQ? Yeah, well, I just thought you look like him.”
Cowok ini kelihatannya bingung, atau emang belagak bego.
“Nnngg, but, I am Micky YooChun.”
Ha??
Gue terbengong. Gue mulai memandang tampang cowok imut ini lebih teliti.
Cowok itu juga masih memandang gue dengan tatapan bingung. Beberapa detik kami saling bertatapan kaya anak autis.
Nggak berapa lama, cowok itu mulai tersenyum gugup.
“Hmm.. do you want my autograph?”
HA???

*** biggrin.gif


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
dy_aoi sky
  Posted: Jun 27 2009, 08:31 AM


Addicted


Group: Members
Posts: 21
Member No.: 65
Joined: 27-June 09



Onnie. . . .
Astagaaahhh. . .
Sepi sangad ya disini. . .

Daku pindah kesini aj deh!

Wakakakakakak. . .
Aio on, buruan di tamatin iniih. . .
Kalo bisa, yg d forum sebelumny brenti apdet aj.
Pindahin kesini. . . *di getok* smile.gif smile.gif smile.gif smile.gif smile.gif smile.gif
Send Private MessageSend email
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 02:24 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Kyaaa ada yang baca disini juga.. senangnyaa.. hehehehe
tongue.gif Iya deh akyu akan posting lanjutannya disini juga, hehe. Tapi yang di forum lain juga tetep gue lanjutin kok... biar tetep banyak yang baca *kedip-kedip* biggrin.gif


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 03:30 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 2

Ya Tuhan.
Aduh, aduh kaki gue lemes. Beneran.
Beneran, cowok imut ini emang beneran Micky YooChun. Serius. Micky YooChun yang personel TVXQ. Gue yakin seyain-yakinnya, kalau cowok ini nggak bohong. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Ini tampang yang sama dengan yang ada di cover album-album yang gue punya, yang ada di poster di kamar temen gue, yang ada di video-video yang sering gue tonton.
Tanpa sadar gue mencengkeram kursi di depan gue erat-erat. Kaki gue lemes!
Cowok itu berdiri dan memegang tangan gue.
“Nngg, are you okay? Sit down, please.”
Gue nurut aja duduk di depan dia. Setelah beberapa detik, otak gue baru bekerja.
“O MY GOD!” Gue melotot syok setengah mati, sampai cowok itu terkaget.
Oops. Untung gue nggak menjerit, Cuma berbisik lumayan kenceng aja (serius, suara gue nggak keluar).
God, miracle do happen!
Gue mulai celingukan ke kanan-kiri. Waspada.
“Micky YooChun?? What are you doing here?” tanya gue setengah berbisik. Ini bahaya banget! Kalau sampai ada fans TVXQ atau anak-anak Cassiopeia yang mengenal cowok ini adalah Micky Yoochun, dia bisa diserang di tempat! Dan lebih parah lagi, gue bisa dibunuh di tempat!
“I’m having a coffee, and waiting for my friend,” jawab Micky sambil tersenyum.
Aduh, bukan itu maksud gue. Ya iyalah dia ngopi di Starbucks. Masa nyuci baju.
“No, I mean, w-what are you doing here, in Indonesia?” tanya gue lagi.
“Oh. TVXQ are going to have a photoshoot in Bali. We’re just visiting the Embassy here before our flight tomorrow,” jawab Micky sambil (masih) tersenyum. “Do you want autograph?”

YA ELAH.

“No.” Gue masih syok, nih. “Eh, I mean, yes! Yes, uhhmm... But, why are you here? Alone, I mean? Where’s the other?” Gue masih celingukan. Beneran deh, ini bahaya banget! “Do you realize that you could get caught by fans here?”
Micky ikut celingukan.
“Uuhhmm... I thought, no one would see this corner,” katanya agak ragu. “Uhhmm, do people here know TVXQ?”
Gue masih berusaha menghilangkan syok gue. Ini orang polos atau sinting, sih?
“Well, I saw you in this corner, and I know TVXQ! And for your inormation, there are plenty of Korean girls like to hang around in this mall. And those girls are mainly TVXQ fans. And not only Korean girls, also Indonesians. Do you realize how dangerous your position right now?” Gue mulai nyerocos nggak berhenti. Bodo amat deh dia ngerti bahasa Inggris dengan baik atau nggak. Kebanyakan orang Korea sih bahasa Inggrisnya ancur banget. Tapi kalau dilihat dari omongan dia tadi sih, kayanya yang satu ini agak pinteran sedikit. Bahasa Inggrisnya. Kalau dia lebih pinter lagi, kayanya nggak mempertontonkan diri di depan umum kaya gini sih.
“Oh really?” Micky tersenyum lebih lebar. “Wow, nice to know that we have our fans here!”
Gue mulai panik. “Don’t you bring hat or something?”
Gue melihat dia mengeluarkan topi dari dalam tasnya.
“Do you want this hat-”
Gue mengambil topi itu dan cepat-cepat memakaikannya ke Micky. “No, I want you to put it on.”
Gue celingukan sekali lagi untuk memastikan nggak ada orang lain yang melihat.
“Look, are you planning to have a fanmeeting here or something? Because if there are fans knowing you here, this place could be packed in a minute, and you will have no chance to escape from those girls. Trust me.” Gue harus menyadarkan ini orang dari bahaya yang mengancam. “Seriously, where are the others?”
“Uhmm, I’m waiting for my assistant to get me here. He was an officer from the Korean Embassy, and he took me here so we could hang out a little. The other members are going around too, with their personal assistants. I’m waiting here.”

Ya ampun. Kasian banget sih. Mana LO nggak bertanggung jawab itu, tega-teganya dia meninggalkan seorang artis ngetop imut sendirian di tengah (bukan ding, pinggiran) mall yang rawan fans ini! Dan artis ngetop imut ini juga polos bener, mau aja ditinggal sendiran tanpa pengamanan. Kalau dia diculik gimana? Kalau seandainya gue fans berat TVXQ dan gue menculik dia, gimana?

Yah, untungnya gue bukan fans berat TVXQ. Dan gue nggak segila itu buat menculik seorang Micky YooChun. Kalau ketahuan polisi masih untung, paling-paling dipenjara. Lha kalau ketahuan ama fans berat TVXQ yang lain? Gue bisa dikuliti hidup-hidup. Kalau ketahuan oleh polisi yang ternyata fans berat TVXQ juga?? Huaaa bisa dikuliti hidup-hidup dalam penjara dong!
Gue bergidik ngeri.

Udah lah, gue nggak mau tahu deh. Gue cukup minta tandatangan aja dan bukti foto buat dua orang temen gue yang memang fans TVXQ. Gue mengeluarkan buku notes dari tas gue.

“Okay. Can you please give me your autographs? For my friends. They are your fans.”
“Micky tersenyum lebar. “Sure.” Dia mulai mencoret-coret buku notes gue dengan tandatangannya. “What’s the name?”
“Cindy,” jawab gue. “Eh, no, I mean, The autographs are for my friend. Sassy and Ryan.” Gue cepat-cepat membalikkan buku gue ke halaman yang kosong. “Two, please. One for Sassy, one for Ryan.”

Deg-degan juga ngeliat artis lagi tanda tangan. Hehe.
Micky mencoretkan tandatangan di buku gue dan lalu menyerahkannya sambil tersenyum. “Here you go.”

Gue cek lagi, ternyata ada tiga halaman. Satu buat Cindy (yaitu gue), dan dua lainnya untuk Sassy dan Ryan. Nnngg, gue kan nggak minta. Tapi nggak apa-apa deh.
“Thank you.” Gue mengeluarkan handphone gue. “Do you mind if I take picture of you with me? For proof, that I actually met Micky Yoochun here, in Jakarta.”
Agak norak sih kedengerannya, tapi memang bener kok. Mana ada yang mau percaya kalau gue bilang ‘eh gue ketemu Micky YooChun lho di Senayan’ ? Paling nggak kalau ada fotonya kan gue bisa pamer ke Sassy dan Ryan. Mereka mungkin masih mau percaya.

YooChun mengangguk dan tersenyum, jadi gue mulai mendekatkan kepala gue ke sebelahnya dan mengambil pose dengan handphone gue. Aduh YooChun wangi banget... Hmm…

“Okay.”
Oh iya. Foto. Fokus dong, Cindy. Fokus.

Setelah beberapa kali jepret (dengan pose yang amat standar ya, peace sign.. cheese... Nggak mungkin foto dengan pose yang aneh-aneh dan mengancam keselamatan jiwa. Cukup dengan menunjukkan tampang YooChun sejelas mungkin), gue mulai membereskan buku gue dan memasukkan handphone kembali ke dalam saku. Whip cream di frappucino gue mulai mengempis. Gue hampir lupa kalau gue punya frappuccino.

“Okay then, YooChun, thank you for the autograph and photos. Don’t worry, I won’t take this out anywhere, no one would believe anyway. Have fun in Indonesia, be careful not to get caught by crazy fans..,” gue mau ngomong apa lagi, ya. Ya udahlah. “Say hi to other TVXQ guys. Bye.”
“Uhm, wait, are you leaving?”
Gue nggak jadi pergi. Tadi dia bilang apa?
“What?”
“Are you leaving? I mean, don’t you want to see other members?” tanya YooChun. “They will be here. I just texted Junsu and he said he’ll be here soon. They are still somewhere.”
Gue cuma bisa meringis.
“Oh, no, no. Thanks. Uhmmm,. That’s okay, I’m not TVXQ fans, anyway.” Dan gue nggak mau mengambil resiko dikerubuti dan mati diinjak-injak oleh cewek-cewek fans berat mereka nantinya.
“Where is your PA, anyway?” Personal assistant, maksud gue. Kok dari tadi nggak nongol-nongol sih.
YooChun tampak celingukan seperti gue.

“I don’t know, he said he wanted to go to the men’s room and buy something...”
Ya ampun. Ini orang beneran ditelantarkan ama LO (Liaison Officer)nya.
“Seriously, you want to wait here? You don’t mind if other fans mught recognize you, and come after you..?” Gue nggak yakin juga sih nanyanya.
YooChun tampak bingung.
“Hmmm.... Do you think there will be any fans found me here?” tanya YooChun balik.

Gue nggak ngerti deh, ini orang nggak percaya yah kalau banyak fans TVXQ di Jakarta?
“Yes,” jawab gue agak nggak sabar. “That’s why I’m leaving now, if fans found me here with you, they will scream and shoot me, maybe.”
Gue pergi aja deh.

“Wait!”
Aduh apa lagi sih. Tangan gue kok dipegangin?

“Uhmm... I think, uhhmm, where do you think it safe to wait for other members and my PA?” tanya YooChun. “Actually... I kinda get bored waiting alone here.”
Whaduh. Di mana ya? Bingung juga kalau disuruh cari ide ngumpetin YooChun. Di mall ini kan banyak cewek-cewek ABG berkeliaran. Untungnya sekarang masih pagi dan ini sudah bukan waktu liburan sekolah atau weekend, jadi nggak banyak juga sih. Tapi tetep aja, kalau yang satu tahu pasti akan datang sejuta yang lain.

“Where are you going?” tanya YooChun lagi.

Aduuhh. Masih bingung nih, kok nanya lagi sih.
Hmmm. Gue masih mikir. Gue liat tampangnya yang lagi nunggu jawaban gue. Aduuuhh... imut bangeeettt!! Nggak tega juga sih ngebayangin dia bengong sendirian di Starbucks nungguin nggak jelas, sampai ketahuan ama fans-fans dia dan dikerubutin sendirian.

Hmmm.

“I’m going to.. hmmm...” Gimana ya. Gue agak gila karena pengaruh frappucino penuh gula ini, kayanya. “Hmm... Do you want to wait your friends and your PA here?”
YooChun tampak agak berpikir.
“Well... I thought maybe you want to company me here for a while.. Or, if there is any other place you think better..”
Other place better? Ada sih...
“Uhmm, I’m going to take my car... And if you want, maybe you can wait in my car, until your friends come out and pick you up?”

Gue emang udah gila. Terima kasih Starbucks atas sumbangan gulanya. YooChun pasti akan memanggil sekuriti dan menuduh gue berusaha menculik dia sebentar lagi.

“Okay, let’s take your car.”
Ha?
“What?”
YooChun memandang gue. “You said you want to take your car. Okay, let’s wait in your car.”
Eh serius nih??
“Are you serious?”
“Yes.” YooChun tampak bingung. “Are you?”
Yaaaaaaaa.... serius juga sih!
Ya Tuhan, kalau nanti gue tertangkap sekuriti dan dituduh berusaha menculik anak orang, tolong tambahkan kadar gulanya ke otak gue biar akting gilanya lebih meyakinkan.
Whatever, lah.
“Come on,” ajak gue. “My car is in the parking lot downstairs. Let’s get out of here.”

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 05:33 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 3

Yap, gue menculik seorang personel TVXQ.
Gue menarik tangan YooChun buru-buru keluar dari Starbucks lewat pintu open area di samping mall. Nggak banyak orang di area itu, kecuali yang merokok (karena open area memang untuk smoking area. Biasanya om-om orang kantoran atau mbak-mbak socialite yang duduk di area sini. Yang merokok, tentunya).
Gue langsung menuju parkiran underground, tempat mobil gue berada. Untungnya escalator ke bawah sepi, mungkin karena masih pagi, jadi area lower ground juga nggak banyak orang. Tapi buat jaga-jaga, tetap aja mata gue mengawasi sekitar.
“Where are your friends, anyway?” Tanya gue kepada YooChun yang dengan nurutnya mengikuti di sebelah gue.
“Uhmm I don’t know,” YooChun tampak memeriksa handphone. “Somewhere inside the mall, a gadget store? Junsu said.”
Gadget store.. hmm… Gue mengira-ngira sambil buru-buru menuju parkiran. Oh, gue tau. Mungkin Best Denki di lantai tiga – atau empat ya? Ya itulah, gadget store Jepang yang isinya barang-barang elektronik itu. Gue sudah menemukan mobil gue. Gue mulai mematikan alarm dan membuka pintu.
“Okay, this is my car. Please get in,” kata gue. YooChun bukannya langsung naik, tapi malah mengamati mobil gue. Duh, iya deh mobil gue cuma mobil kecil! Tapi walaupun bukan BMW, yang penting nggak butut kan.
“Wow, a Hyundai?” YooChun tampak sumringah. “Nice.”
“Sorry it’s not a fancy car,” ujar gue. Mau gimana lagi, udah sukur-sukur dibeliin Atoz. Namanya juga mahasiswa. Gue nggak mampu beli mobil sendiri. Dan kalau nekat minta BMW, bisa nggak diaku anak ama Mama.
“This is nice,” ujar YooChun sambil masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Ya ya. Terserah elo deh.
“Okay,” gue mulai menjalankan mobil gue keluar dari parkiran. “I will drive to the lobby, and you call your friends and tell them to pick you up there.”
YooChun mengangguk dan mulai menelepon.
“No signal,” cetusnya.
Gue mendengus tanpa sadar. “Ya iyalah, ini kan masih basement! Mana ada sinyal. Bentar lagi dong kalo udah di atas.”
“What?”
Aduh gue lupa kalo sebelah gue nggak ngerti bahasa Indonesia. Gue meringis.
“Sorry. I mean, there’s no signal in the basement. Wait until we reach the lobby,” kata gue.
“Oh. Okay.”
Akhirnya kita keluar ke lobby juga. Bukan lobby dalam, tapi langsung ke jalan raya. Gue harus masuk lagi ke lobby.
“Okay, call your friends and tell them to pick you at the... south lobby. You’re in a blue Hyundai Atoz car,” saran gue sambil berusaha masuk ke jalur lobby selatan.
YooChun mengangguk sambil menelepon lagi. Kali ini sepertinya berhasil.
“Yoboseyo... %$&@&%%! @(*!^$!(%^&%^??”
Aduh gue nggak ngerti deh dia ngomong apa. Gue nggak bisa bahasa Korea. Bisa baca tulisan hangeul aja udah sukur banget. Jangan tanya deh artinya, karena gue bener-bener nggak ngerti. Gue Cuma menguasai kata-kata dasar seperti ‘yoboseyo’ dan ‘gamsahamnida’. Dan ‘saranghae’, tentunya. Hohoho.
“Yoboseyo? Yoboseyo??”
YooChun tampak sering banget ngomong ‘yoboseyo’. Artinya ‘halo’ kan, ya.
Gue udah memasuki lobby selatan.
“My phone is dead.”
“What?” gue salah denger kali.
“My phone is dead,” kaya YooChun sambil menunjukkan handphone-nya yang mati kepadaku.
YA ELAAH CAPE DEEHH.
“Well, have you contact them? Have you tell them that you’re here?” tanya gue.
“No, not yet, I tried to talk to Junsu but my phone suddenly off.”
Gue melirik ke arah handphone YooChun. Aduh, HP Korea pula. Gue nggak punya charger-nya. HP gue kan merek Finlandia punya.
Gue melongok ke arah lobby sekali lagi. Kali aja ada nongol tampang-tampang yang mirip anak-anak TVXQ atau LO si YooChun yang nggak imut dan nggak bertanggung jawab itu. Tapi kok nggak ada ya. Lobby selatan isinya cuma tukang valet dan satpam yang lagi memeriksa dua buah mobil. Aduh, mau nggak mau gue musti jalan pelan-pelan nih.
Gue mengambil HP gue dari saku.
“Here,” ujar gue sambil menyodorkan HP ke YooChun. “Call yor friend with my phone.”
YoChun menerima dengan ragu-ragu.
“Uuhhmm... I don’t remember the number..”
Ha?
Gue sudah melewati lobby selatan. Mau nggak mau harus jalan terus ke lobby utara.
“What? How about your PA’s number?” tanya gue.
“Uhhmm.. that’s in my phone too, I don’t remember,” jawab YooChun. Gue menatap cowok ini setengah nggak percaya. Serius deeh.. Ini nggak lucu banget!
“Well, can’t you switch you phone card to mine?”
YooChun mulai membuka tutup baterai HPnya. Bagus... Handphone CDMA. Gue mana punya CDMA!
“This is Korean phone. Uhhmm.. I don’t think there’s any card in here.”
Yak baguuuss... tanpa kartu SIMCard pula! Keren banget nih artis, jalan-jalan di Indonesia pake HP Korea. Bukan cuma mereknya, tapi juga nomernya.
“I have the battery charger with me,” ujar YooChun sambil menunjuk ke arah tasnya.
Yah, tapi tetep aja kan, di mobil gue juga nggak ada colokan listriknya.
“Save it for later. My car doesn’t have the electric jack, anyway,” ujar gue.
Dan gue melewati lobby tempat Starbucks itu. Mata gue udah jelalatan dari tadi, tapi nggak nampak ada manusia macam si cowok asisten nggak lucu dan nggak jelas itu, juga nggak ada manusia macam anak-anak TVXQ yang berkeliaran. Aduh. Nggak mungkin gue berhenti di sini, bisa ditoyor satpam. Gue berusaha nyetir sepelaaan mungkin.
“Do you see any of your friends? Or assistant?”
YooChun juga mulai celingukan.
“Nnngg no...”
Dari spion gue melihat si satpam lobby sudah berjalan mendatangi mobil gue dengan pentungan merahnya.
Shit, ujar gue dalam hati. Buru-buru gue menjalankan mobil melewati Starbucks.
“Hey, look. I can’t park here, so we will make a turn and go back to the south lobby, okay?”
YooChun mengangguk. “Okay.”
Yah, memang nggak ada cara lain lagi sih. Mau nggak mau memang kita musti muter dan celingukan lagi di lobby dan depan Starbucks.
Gue mulai menjalankan mobil gue keluar dari lobby menuju jalan raya. Lalu masuk lagi ke lobby selatan dan celingukan lagi sampai depan Starbucks.
Gue mulai berasa bego. Dan lapar.
Setelah muter lobby untuk yang ketiga kalinya, gue menghentikan mobil gue di pinggiran jalan depan lobby.
“Okay, uhmm...” Gue harus mulai berpikir. Come on, Cindy. Ini kan ide lu untuk cabut dari Starbucks dan memasukkan Micky YooChun ke dalam mobil lu. Sekarang gimana caranya ngembaliin orang itu ke temen-temennya? Tanpa resiko tertangkap oleh fans-fansnya?
Aduh itu HP pake mati segala, lagi.

GRUYUUUKKKK.

Tuh kan gue beneran laper. Perut gue mulai mengeluarkan bunyi-bunyian tidak senonoh…
Eh tunggu.
Itu bukan suara perut gue.
Gue menoleh ke arah YooChun, dan dia tampak meringis.
“Sorry. I’m kind of… hungry.”
Gue sampai melotot saking nggak percayanya. Hah, tadi itu suara perut dia, toh?? Spontan gue langsung terbahak. Ternyata bukan cuma gue yang kelaparan.
“that’s okay... I’m hungry too.” Gue merasa agak senang sih, ternyata nggak cuma gue yang menderita. Hehe. “Haven’t you eat anything?”
YooChun mengedikkan bahunya. “A small snack at the Embassy, Changmin’s Pringles,... and the coffee at the Starbucks.”
Hmm. Gue malah belum makan apa-apa dari bangun tidur. Cuma frappuccino penuh gula tadi.
Gue mulai bosan dengan tunggu-menunggu nggak jelas ini.
“Okay,” gue mulai memutar otak. “Let’s find some food. Uhhmm.., maybe we can go back to your hotel?”
YooChun tampak ikut mikir.
“Do you think it’s okay if I go back to the hotel without them?”
“Well,” menurut gue, “If they realize that they lost you, wouldn’t they contact the hotel or the Embassy to find out if you contact them?”
Ini kalimat gue membingungkan nggak ya buat dia. Gue aja agak bingung.
“Okay,” gue menawarkan alternatif lain. “I’ll go to the lobby, and leave a message to the information desk...”
Eh, kalo gue ninggalin pesen ke meja informasi di lobby mall, kira-kira apa yang bakal gue bilang? ‘Kepada rombongan TVXQ dari Korea, ditunggu oleh Micky YooChun di mobil Atoz biru di parkiran lobby selatan’ ? Yang ada mobil gue langsung digrebek ama fans-fans TVXQ beneran.
Atau gue bilang, ‘Mbak, nanti kalau ada yang nyari yang namanya YooChun, tolong bilangin dia pergi sama saya ke hotel.’ Iiih. Kedengerannya kok gue kaya penculik yang pervert banget yah. Bisa-bisa gue malah dipanggilin sekuriti.
Gue pusing. “Or just contact the Embassy.”
YooChun masih tampak agak mikir.
“Maybe we should contact the Embassy?”
Gue mengangguk. “Cool. I’ll call the Embassy.”
GRUUYUUUKKK.
Oke, kali ini beneran perut gue yang bunyi. YooChun tertawa tertahan. Aduh malu banget deh. Gue pura-pura melotot ke arah dia, dan dia cuma senyum-senyum nggak jelas. Ih. Imut banget, nyebelin.
“Sorry.” Gue melihat plang McDonalds di seberang jalan. Aha. “I’m gonna buy some Big Mac and fries there,” gue menunjuk ke arah plang besar itu. “Do you mind if we get to the drive-thru?”
YooChun tersenyum lebar. “Of course not. After all, you’re the driver.”
Ya ya ya. Gue yang nyetir. Kan gue yang menculik elo.

Jadi gue mulai menjalankan mobil gue menuju gedung yang berseberangan dengan mall tadi. Yang gue suka dari McDonalds ini adalah sepi banget, isinya cuma orang kantoran kalo jam makan siang. Dan sekarang belum jam makan siang, jadi sepi aja. Kayanya aman nih.
“Do you want to order by the drive-thru, or get in there?” tanya gue. “I mean, I don’t think any TVXQ fans would suspect you’re here.”
YooChun mengangguk. “Let’s go in. I need to go to the rest room.”
Hoh. Gue juga baru nyadar kalau dari tadi gue pengen buang air kecil.

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 05:35 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 4

Gue memaksa YooChun untuk tetap memakai topi baseballnya sewaktu memasuki McDonalds. Bukan apa-apa, walaupun sepi, tapi waspada itu perlu.
Setelah memesan dua paket Big Mac sementara YooChun menyelesaikan urusan bongkar muatan di toilet (by the way, gue yang bayar makanannya. Karena waktu mengantri di kasir, YooChun bilang “Uhhmm.., can I use your money first? You see, I only have dollars and Korean Won money. Here, I’ll pay you back once we found my assistant.” Dan memberikan selembar uang 20 USD. Ini nih salah satu jenis orang yang pergi ke Indonesia tapi nggak nukerin duit ke Rupiah Indonesia, dan menganggap dollar Amerika itu bisa berlaku di gerai McDonalds negara manapun.), akhirnya gue dan YooChun duduk di meja pojokan McDonalds yang paling aman dari gangguan siapapun.
“Okay,” gue mengambil handphone gue sambil menelan potongan burger gue, “I’m gonna call the Embassy. I’ll tell them that you’re being apart from your crews and we’ll go back to the hotel.”
YooChun mengangguk-angguk setuju sambil konsen mengunyah burgernya.
Setelah menanyakan nomor telepon Kedutaan Besar Korea Selatan ke Penerangan 108, gue segera menghubungi nomor itu.
“Selamat siang, dengan Kedutaan Besar Republik Korea Selatan.”
“Enng, selamat siang, Bu.”
“Siang, ada yang bisa saya bantu?”
Gue berdehem sebentar. “Begini Bu, saya mau menanyakan tentang rombongan TVXQ yang datang ke Kedutaan hari ini..”
“Ehm, maaf?”
“Rombongan TVXQ,” kata gue. “Itu lho Bu, grup Dong Bang Shin Ki, grup artis dari Korea..”
“Aduh, maaf ya, tidak ada artis Korea yang datang ke Indonesia kok.”
Lho, ini gimana sih? “Ada, Bu. Itu lho, Dong Bang Shin Ki. Saya tahu kok, soalnya-”
“Ahahaha, maaf ya Mbak, kalau mau tanya-tanya soal artis Korea, lebih baik ke Korean Foundation saja, soalnya mereka lebih mengurusi soal kebudayaan. Tapi memang nggak ada artis Korea yang datang ke Indonesia kok. Nanti kalau ada pasti saya beritahukan ya.”
“Eh, tapi-“
“Selamat siang.”
Nut nut nut nut...
LHO KOK DIMATIIN SIH TELPONNYA????
Bener-bener deh.
“What?” tanya YooChun disela-sela kunyahan french friesnya.
Gue melotot ke arah YooChun.
“She hung up.”
“What?”
“The Korean Embassy hung up the phone!” Gue mulai emosi. “She said there’s no TVXQ nor any Korean artist came to Indonesia! Ha!”
YooChun tampak bingung.
“But... I am really TVXQ member.”
“Ya gue juga tauuu! Tapi mana mungkin Kedutaan mau ngasih tau sih kalo ada artis yang dateng, bisa digrebek ama fans tuh Kedutaan, ngalah-ngalahin orang demo!”
“What?”
Aduh, karena kesel gue sampe ngomel dalam bahasa Indonesia. Gue lupa kalo cowok depan gue ini biarpun imut tapi nggak gablek bahasa Indo.
Gue minum aja dulu deh.
“Nothing,” jawab gue pelan. Nggak nyalahin dia juga sih. Kan gue yang berinisiatif nyulik ni cowok. Jadi agak nyesel sih emosian.
YooChun ngubek-ngubek tas postman-ya dan mengeluarkan sesuatu.
“Here,” kata dia sambil menunjukkan passport-nya. “This is the proof that I’m Park YooChun, a Korean. I’m really a TVXQ member.”
Gue mengambil passport itu dan melihat. Waduh tulisannya hangeul semua. Dan fotonya... Jadi pengen ketawa.
“Why are you laughing?”
Gue masih ngikik. “Well, I believe you, YooChun. Sorry. I know you’re really a TVXQ member.” Gue melihat-lihat isi passport itu. Wheeww banyak cap Jepang, Singapore, Amerika, ... Aduh tapi yang namanya foto passport itu kenapa selalu keliatan cupu yah.
Huahahahaha.
“Your face look geeky in here,” ujar gue sambil menunjuk ke foto passportnya.
YooChun tertawa sambil merebut kembali passportnya. “Give me that.” Dia memasukkan kembali passport itu ke dalam tas. “You should see my driver license photo. It’s worse.”
Gue ngakak.
“Why don’t you pose like one of those photos at the magazine?”
YooChun melotot.
“I did, but they only need my face, not my body pose.”
Gue ketawa lagi. Ternyata orang ini lucu juga.
“So how’s the Embassy?” Tanya YooChun.
Halah iya! Kok gue lupa.
Gue mengambil handphone gue lagi.
“The Embassy said they didn’t recognize you, so I’mma try the Korean Foundation.”
Gue menanyakan nomor telepon The Korean Foundation ke 108 dan menghubungi nomor itu. Haduh ini nomor kok malah sibuk. Berulang kali gue coba, nggak nyambung-nyambung juga.
Gue memutuskan untuk berhenti menelepon dulu. Nanti gue coba lagi deh.
“The line’s busy,” kata gue sambil mengambil french fries. Eh perasaan tadi beli french fries banyak banget deh, sebaki gitu. Kenapa sekarang tinggal dikit banget ya?
YooChun menelan kunyahannya. “That’s okay, you can call it again then.”
Gue mengangguk dan mencocol french fries ke saus tomat lagi.
“I’m sorry I got you in this situation,” kata gue. Beneran nyesel, nih. “Uhm, do you want me to get you back to that mall?” tanya gue sambil menunjuk mall seberang. “Maybe you can find your friends..”
YooChun ikutan mencocol saus. “No, that’s fine. Really.” Dia mengunyah french friesnya. “We got our free time anyway. It’s just that I think my assistant had something else to do, so...” YooChun mengedikkan bahunya.
“What’s your assistant name?” tanya gue.
YooChun berpikir sebentar. “Ehhmm.. I think it’s Mr... Bump? Bamber?”
“Bambang?”
“Oh yeah! That’s the name. Mr. Bump...”
“Bambang.” Yaelah. Namanya sih sesuai aja ama tampangnya. Indonesia banget (bukan berarti jelek, ya, no offense buat orang-orang yang bernama Bambang. Artis Indonesia juga ada kok yang namanya Bambang, walopun nggak mau ngaku.)
“I think that Bambang guy is very irresponsible to ditched you up at the Starbucks.. I mean, well like I said. There are tons of TVXQ fans in Indonesia, and that mall is one of the most popular malls in Jakarta, even for Korean expats. With you hanging around there, the possibility of having a sudden fanmeeting is in a snap of a finger,” ujar gue.
YooChun tersenyum.
“But you’re a fan of TVXQ and you don’t scream and tell your friends that you meet TVXQ,” katanya.
Gue mendelik.
“I told you, I am not a TVXQ fan,” kata gue menegaskan.
“If you’re not a TVXQ fan, then why are you saving me?” tanya YooChun.
Saving you? Gue kan menculik elu, bukannya nyelametin. Well, niat awalnya sih memang menyelamatkan sih. Tapi siapa suruh jadi cowok imut, kan gue jadi gemes.
Gue mikir jawabannya sebentar. Hmmm... masa gue jawab ‘karena elo imut dan gue pengen aja jalan ama cowok lutu’ ?
“Because... Just..” Aduh apa ya. “Just because.”
YooChun tersenyum lagi.
“Okay, so I was bored and I thought if I could hang out with you for a while, I might get something I can write about,” ujar gue beralasan.
“You were bored, well that makes the two of us. But... you’re a writer?” tanya YooChun.
“I’m a freelance reporter,” jawab gue. “Are you scared now?” tantang gue.
YooChun tertawa.
“Maybe,” katanya. “I just never thought a reporter could be so young.”
“Hey, I’m a freelancer,” kata gue nggak terima. Masa dia nggak percaya sih?
“I thought you’re a school girl.”
“Correction, I’m a college girl.”
“Aha.” YooChun mengangguk-angguk. “How old are you?” tanyanya.
“I’m 21 next month.”
“Hm. That means I’m older than you.”
“Well, that’s not gonna make me calling you ‘oppa’.”
YooChun tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah gue.
“Why wouldn’t you call me ‘oppa’?”
“Because I’m not your sister,” jawab gue sambil menatap dia balik. “And like I told you, I am not your fan.”
YooChun terbahak sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Baru kali ini gue melihat dia tertawa lepas seperti itu. Dia kelihatan seperti... bukan artis.
“That’s sharp,” ujar YooChun sambil mengambil gelas sodanya dan mulai menyeruput.
Gue mencoba menelepon Korean Foundation sekali lagi.
Tapi sama seperti tadi, nada sibuk terus yang gue dengar. Hmm. Jangan-jangan si mas-mas 108 itu salah ngasih nomer.
“I don’t get this,” gue mulai ngedumel sendiri.
“So, Miss reporter, what are you planning now?” Tanya YooChun sambil senyum-senyum. Ini orang kenapa ya, nyadar kali ya kalo dia imut banget pas lagi senyum? “Are you going to ditch me here, or somewhere?”
Gue memandang tampang imut itu. Aduhh.
“I kidnap you, and I’mma keep you as a hostage,” jawab gue asal.
“Really?” YooChun terdengar bersemangat. Lho, gimana sih ini. Dibilang mau disandera kok malah seneng.
“No,” jawab gue sebel. “Look, I don’t want to get charged as a maniac fan who kidnapped a Korean idol and risking my life in a prison for 50 years and got tortured by Cassiopeian. So I think it’s better to get you back to your hotel, to your manager or whoever in charge of you guys. They must be worried like hell.”
YooChun manggut-manggut.
“Yeah okay,” ujarnya. “But actually it’s kinda fun to have a free time and wandering around, you know, while I’m here.”
“Yeah,” kata gue. “You can wander around with your friends and managers. Assistants, whatever.”
YooChun memainkan gelas sodanya dan memandang gue.
“You don’t want to go out with me?”
Gue terbengong.
Aduh, itu kalo gue salah nangkep ya, pasti gue akan ngira kalau dia ngajakin gue kencan. Hahaha. Tapi maksud dia kan ‘go out’ secara harfiah yaitu ‘jalan-jalan keluar’.
“No, I mean, yeah. Sure I’d like to go out with you. It’s not like I have anything else to do, anyway. But, you know, your crew must have been missing you. After all, you’re an artist with tight schedules. And I’m just... uhm, me. Who live here. Like, forever.”
YooChun terdiam. Dia menyeruput sodanya sampai berbunyi ‘srookk’ (itu kayanya tinggal es batu doang deh).
“You’re right,” cetusnya.
Setelah menghabiskan soda gue sampai berbunyi ‘srookk’ juga, gue mengambil tas dan mulai bangkit.
“Okay, why don’t we just... go see your crew at the hotel.”
YooChun mengangguk dan ikutan bangkit dari kursi. “Yeah. Okay.”

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 05:36 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 5

Karena tujuan kita sekarang adalah hotel tempat YooChun dan anak-anak TVXQ lainnya menginap, gue mulai merasa agak rileks. Gue menyetir keluar dari area McDonalds sambil memutar musik dari CD player gue. Gue selalu memasang musik kalau lagi nyetir. Nggak cuma kalo lagi nyetir sih, tapi juga kalo lagi belajar, kerja, mandi, bahkan tidur.
“So, what is the hotel you’re checkin’ in?” Tanya gue sambil melongok kiri-kanan dan melaju ke jalan protokol.
YooChun nggak langsung jawab, tapi dia malah membesarkan volume CD player mobil gue. “Hey, isn’t this Korean song?” tanya dia.
Yee. Ditanya malah balik nanya.
“Yes,” jawab gue. “It’s Vistee. I like the album.”
YooChun tersenyum (lagi!). “Wow. I never thought Indonesian people know Korean songs like this.”
“Not many people, just some people like... me,” sahut gue. “Most Indonesians only know popular songs, or what they know from TV dramas. There’s a lot of Korean dramas in television.”
“Aah, so that’s why they got the Hallyu wave,” YooChun manggut-manggut. “But how do they know TVXQ?”
Gue melirik cowok aneh ini. “Well, there are the things we called ‘internet’ and ‘cable TV’ which played ‘music videos’, and we also have this place called ‘music store’ for more convenience knowledge about Korean music industry,” sahut gue lempeng. “And so that’s how we know there’s a singing group called TVXQ.”
YooChun tertawa keras dan nggak berhenti-berhenti. Tuh kan beneran aneh ni orang.
“What are you laughing about?” tanya gue mulai takut, kalau ni orang ketawa terus bisa disangka bikin gila anak orang nih gue.
“You’re so funny,” kata YooChun disela-sela tawanya yang sudah mulai mereda.
“What so funny about me?” tanya gue balik.
“It’s… you.” Yoochun memandang gue sambil tersenyum. “You know what, it’s weird that I just met you for, like, an hour ago, but I feel comfortable with you.”
Gue melirik YooChun. Masih senyum-senyum sambil ngeliatin gue. Duh, jadi nggak konsen nyetir nih gue.
“Well, don’t be so comfortable with someone who might have a potential to become a kidnapper,” ujar gue sambil mengalihkan pandangan ke jalanan.
“Hey, you haven’t told me your hotel,” kata gue mengingatkan. Udah hampir sampai Thamrin nih.
“Oh,” YooChun membenarkan posisi duduknya dan mulai memandang ke arah luar jendela. “Hmm, it’s The Intercontinental. MidPlaza, do you know the place?”
Gue menoleh ke arah YooChun dan mulai melotot.
“Ya elaah... itu kan tadi deket dari Senayan! Kenapa nggak bilang dari tadi, udah kelewatan dong!”
“Ha?”
Halah, salah ngomong lagi. “No, I mean, we went past through it already,” kata gue. “Why didn’t you say it earlier.”
“Oh,” YooChun tampak agak sedikit kaget. “Mian... I mean, sorry.”
Gue agak geli mendengar dia salah ngomong dalam bahasa Korea. ‘Mian’ kan artinya sori juga, ya. Gue setengah ketawa dan setengah sebel jadinya.
“That’s fine. I’ll just turn over there.”
“I’m sorry I made you drive me along the place,” ujar YooChun sedikit pelan.
Gue melirik cowok sebelah gue yang lucu ini (dalam arti bener-bener lucu, dan ‘lutu’ sih sebenarnya).
“No, that’s okay.”
Kami terdiam selama beberapa saat. Hanya suara musik dari CD player yang masih mengalun. Lagu sudah berganti.
“Uhm,” YooChun berdehem mencairkan suasana. “Since you like Korean music, who’s your favorite artist?”
“Me?” Gue agak berpikir. Hmmm, siapa ya. “I like them all, mostly. Nothing’s too special. I like the songs occasionally.”
“Is that so?” Suara YooChun tampak agak kecewa. “How about TVXQ?”
Gue melirik ke arah YooChun sambil tertawa pendek. Ini orang masih usaha, ya.
“I like TVXQ,” kata gue akhirnya. “Sometimes.”
YooChun tertawa. “Is that sometimes is ‘many times’ or just ‘some’ times?”
Giliran gue yang ketawa mendengar pertanyaan usahanya. Kayanya kalo pertanyaan kaya gini nggak perlu dijawab deh.
“Okay, okay,” kata YooChun. “How about your favorite male artist?”
Gue berpikir selama dua detik. “Tei.”
YooChun mengeluarkan suara seperti memisuh, hahaha. “The second male favorite?”
“Kangta.”
YooChun terbahak lagi. “Oh, geurae... All my seniors, huh.” Dia menatap gue lagi. “How about favorite male group?”
Gue mendelik. “Shinhwa!”
“Aaaahhh!” YooChun berseru sampai tertawa terbahak-bahak sambil menutup wajahnya. Mau nggak mau gue ikutan ketawa, ini orang konyol banget.
“Your second favorite group?”
“Hmmm… VOS!”
“Aaaahhh!”
Huahahahahaha. Seneng banget deh ngelihat tampang berharap dan gemesnya YooChun.
“Okay, how about the third?”
Gue sampai cekikikan. “SG Wannabe.”
YooChun mendelik. “Yah! Don’t you think about TVXQ?”
“Yes I do,” jawab gue enteng. “TVXQ is the … fifth.”
“What?”
“The fourth is Nell. And the fifth is TVXQ,” jawab gue sekenanya.
YooChun tampak agak merengut. Hahahaha. Lucu banget mukanya.
“Okay,” YooChun mengganti posisi duduknya. “From all TVXQ member. Whose your favorite?”
Waduh. Siapa ya. Kalo gue bilang ‘sekarang sih gue lagi suka elo’, pasti dia bakal ge-er banget.
“Start from the second favorite,” ujar gue.
YooChun tampak agak protes, tapi nurut juga. “Okay. Whose your second favorite?” tanyanya setengah berharap.
“U-Know Yunho!”
YooChun kayanya mau pingsan di jok mobil gue, hehehe.
“The third one?” Dia mulai mengacungkan jarinya ke arah gue.
“Junsu.”
“Aaiissh! Il-bon! Il-bon! I mean, the number one?” Gue terbahak mendengar bahasa dia yang mulai campur aduk.
“That’s it, I won’t tell you,” jawab gue sambil meringis menang.
“What!?” YooChun mulai nggak terima. “Yah! You should tell me, that’s not fair.”
Gue seneng banget dapat hiburan konyol di mobil kaya gini. Perut gue mulai sakit karena cekikikan melulu dari tadi.
“I won’t tell you now. I’ll let you know later.”
“When?”
Gue mencibir ke arah YooChun. “Just later.” Hihihi.
YooChun mulai memasang mimik wajah yang konyol banget, antara sebel dan gemes.
Memasuki jalan Sudirman, gue berbelok menuju hotel yang katanya tempat YooChun dan crew-nya menginap. Gue nyengir melihat gedung-gedung di sekitar hotel MidPlaza Intercontinental.
“Is that the hotel?” tanya gue sambil menyetir pelan-pelan.
YooChun mengamati dengan cermat gedung di sebelahnya. Ia mengangguk-angguk.
“Oh, yes that’s the hotel.”
Aku manggut-manggut. “Okay then.”
Setelah melewati gerbang pemeriksaan, gue menghentikan mobil di lobby hotel. Seorang petugas valet membukakan pintu mobil. Tadinya gue pikir mau parkir sendiri aja. Tapi sekalian deh. Hahaha. Gue memberikan mobil gue kepada petugas valet, dan turun menuju lobby bersama Yoochun.
Begitu kami memasuki lobby hotel, YooChun menarik tanganku menuju meja resepsionis. Tampak bebeapa orang Korea di situ. Salah satu dari mereka memandang kami, dan tampaknya mengenali YooChun.
“Ya! YooChun-a!”
YooChun memandang pria setengah baya yang memanggilnya itu, dan wajahnya langsung sumringah. “Oh! Hyung!”
Ia menarik tanganku dan setengah berlari menghampiri meja resepsionis. Aduh gue kok ditarik-tarik sih.
Setelah dekat, kumpulan orang-orang Korea itu tampaknya crew-nya YooChun. Mereka mulai ribut dalam bahasa Korea. Hueh, pusing gue. Nggak ngerti sama sekali mereka ngomong apaan. YooChun juga ikutan ngoceh dalam bahasa Korea, tapi tangan gue nggak dilepas-lepas. Diam-diam gue menarik tangan gue dan mundur sedikit.
YooChun menyadarinya dan ia menoleh ke arahku.
“Hey, this is the crew from my management,” kata YooChun.
“Ooh,” gue meringis doang. Ada dua lali-laki setengah baya, satu cowok yang kayanya masih berumur 20-an, dan dua cewek yang nggak bisa dibilang muda lagi, tapi bukan tante-tante.
YooChun mengatakan sesuatu kepada mereka. Gue nggak ngerti apa, tapi yang jelas dia menyebutkan nama gue. Gue cuma nangkep pas dia bilang ‘Cindy’ dan ‘Starbucks’ yang kedengerannya kaya ‘Setabakseu’. Hahahaha. YooCun menarik tangan gue dan kayanya sih dia ngenalin gue ke crew itu. Mau nggak mau gue meringis dan mengangguk.
“Hello,” kata gue sambil mengangkat tangan sedikit. Eh, harusnya bukan ‘hello’, ya. Harusnya gue bilang ‘annyonghaseyo’ atau sebangsanya, kan ya? Ah biar deh.
Mereka mengangguk dan tersenyum ke arah gue dan mengucapkan “Hello”, “Hi”, dan ada juga yang bilang “Annyong”.
YooChun menoleh ke arah gue dan tersenyum.
“I told them that you saved me when I was lost in Starbucks.”
Lost? Idih. Starbucks cuma sepetak gitu kok ngakunya tersesat. Yah tapi kalo crew-nya percaya, terserah deh. Daripada dia bilang kalau diculik sama cewek sinting ke McDonalds, kan bahaya di gue.
Gue manggut-manggut. “Oh, okay then.” Kalo gitu ya sudahlah. Gue pulang aja. “Uhm, so I will go then.”
YooChun mengangkat alisnya. Lalu ia mengucapkan sesuatu kepada crew-nya, lalu menarik gue menjauh dari mereka. Setelah kira-kira jarak aman (artinya nggak ada yang bisa nguping), YooChun bertanya ke gue.
“Where are you going?”
“Uhmmm, I think I’ll just go home,” jawab gue.
YooChun tampak berpikir. “I’m sorry I made you drive me here... Is your house far from here?”
Gue nyengir. Dia pasti kecewa kalo tahu.
“Unfortunately not.” Gue tertawa sambil menunjuk jendela lobby yang transparan sehingga terlihat gedung-gedung di seberang hotel. “Do you see those red buildings in front of this hotel?” Gue menatap YooChun. “Those are apartments. I live there.”
YooChun terbengong.
“Jinjja?”
Gue cekikikan sambil mengangguk. Itu tampangnya lucu banget.
“Yeap. Tower 1, 23rd floor.”
Yoochun tampak kaget tapi lega. Dia mulai tertawa.
“Waahhh, thank goodness! I thought you live far away from here and I felt sorry because of me you have to drive far.”
Gue nyengir. Seandainya rumah gue di Bogor sekalipun, gue rela kok nyetir jauh-jauh nganterin elo. Hahaha.
“Okay, so... Now you’re back to your crew, I’ll just go home then,” ujar gue.
YooChun menatap gue. “Nnngggg, are you busy? Did I interrupt something, or...”
Gue mendelik. “I told you I had nothing to do so I kidnapped you at the Starbucks.”
YooChun kayanya baru inget, jadi dia tertawa lagi.
“So I’ll go back and wandering around maybe,” kata gue.
YooChun tampak berpikir. Ia menoleh ke arah crew-nya sebentar.
“Hey, listen...,” YooChun berbicara pelan. “Now that I met my crew, I already explained to them what happened. And the others are still having their free time. So...”
YooChun terdiam. Gue menunggu. Dia mau ngomong apa sih?
“Do you mind if I go out with you?”
Ha?

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 05:40 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 6

Kalau aja gue nggak mengenal Micky YooChun sebagai seorang artis yah, gue pasti mengira kata-katanya barusan itu sebagai ajakan kencan yang berarti ‘elo nggak keberatan kan kencan ama gue’. Tapi berhubung yang ngomong barusan itu seorang YooChun yang a)artis, b)baru sekitar 2 jam kenal gue, dan c)orang Korea yang bahasa Inggrisnya agak ajaib walaupun dibilang pinter juga, jadi gue memutuskan untuk menganggap ajakannya barusan itu adalah ajakan untuk jalan-jalan bareng ama dia.
“W-what do you mean?” Yah, tetep aja sih gue gagap.
“I mean...” YooChun menoleh ke arah crew-nya sebentar. “I told them that you are my old friend and we haven’t met for a long time, so... Maybe we could wander around, you know... While I’m here?” YooChun meringis. “because, you know, all the members have their free time with their assistants. And if I have to wait for them at the hotel, it will be boring...”
Gue masih melongo.
“Yah. Cindy, do you mind if we go out?” tanya YooChun sambil meringis setengah nggak yakin. “Please?”
Ookay. Ini nih yang namanya dilema. Di satu sisi, gue pengen banget pergi ama seorang Micky YooChun. Micky YooChun, gitu loooh. Tapi di sisi lain, risikonya gede banget, man. Dan gue sendirian.
“You mean... You mean, without your assistant?” tanya gue memastikan.
YooChun mengangguk. “Well... my assistant Mr. Bump is nowhere I can find, right now. So...” YooChun mengedikkan bahunya.
Hmm. Gue jawab apa ya? Pergi? Nggak? Pergi?
“Uhmmm... It’s okay if you don’t want to...” YooChun mulai ragu-ragu.
Gue menoleh cepat. Aduh, bukan gitu maksud gue..
”Okay! I mean, yeah, we can go.”
Eh, itu barusan gue yang ngomong ya?
YooChun tersenyum sumringah. “Really? Good! I will charge my phone battery in my room and I’ll borrow the other’s phone.” Ia menepuk pundak gue dengan gembira dan berlari menuju crew-nya. “Wait up, okay! Just a minute!”
Gue masih melongo di tempat.
Gue tadi bilang apa? We can go? Sepertinya alam bawah sadar gue mulai mengambil alih otak waras gue.
Yah, karena gue sudah memutuskan untuk pergi ama YooChun, ya sudahlah. Ini bener-bener keajaiban alam yang kayanya nggak bakal terjadi dua kali. Gila. Gue bakal jalan bareng dengan seorang Micky YooChun. Artis yang dengan senang hati gue culik.
Gue menjatuhkan badan ke sofa lobby. YooChun tampak masih berbincang dengan crew-nya, lalu berlari menuju lift sambil menoleh ke arah gue. Dia memberikan tanda dengan tangannya, yang kalo gue tangkep sih artinya ‘tunggu bentar’. Gue Cuma mengangguk-angguk aja sih.
Huff.
Gue jadi deg-degan. Kalo gue ngajak jalan-jalan YooChun, enaknya gue bawa kemana ya? Hmm.
Oh, gue tau. Mungkin dua temen kacrut gue itu bisa ngasih ide...
Gue mengambil HP dari saku celana gue dan mulai menimbang-nimbang. Enaknya gue kasih tau nggak ya, si Sassy dan Ryan? Kalo gue kasih tau, pasti bakal heboh banget. Tapi kalo nggak... Kok gue egois bener ya. Mereka kan juga suka TVXQ. Ngefans, malah. Hmm...
Tiba-tiba salah dua dari crew YooChun menghampiri gue. Seorang cewek dan seorang cowok kurus berkacamata. Mereka menghampiri sofa gue dan tersenyum sambil menggangguk. Gue mau nggak mau ikutan meringis dan mengangguk.
“Annyeong...” sapa si cewek dengan ramah.
“Hello,” kata si cowok kurus.
“Oh, a-annyeong... Halo,” jawab gue (nggak tau mau ngomong apa!).
Mereka duduk di sofa depan gue.
“Uhmm, Cindy?” tanya si cewek.
Gue menggangguk. “Yes.”
“Ah. I, Shin Young Hee,” kata si cewek ini sambil menunjuk dadanya.
Oooh, dia ngajak kenalan toh. Kayanya yang ini nggak bisa bahasa Inggris.
“I, Park Tae Jun,” kata si cowok kurus sambil juga menunjuk dadanya sendiri.
Waduh, yang ini kayanya ga bisa bahasa Inggris juga.
Gue tersenyum dan mengangguk lagi. “Oh, hello.”
Kedua orang di depan gue itu meringis.
“Uhmm, Cindy... YooChunie pren?” tanay si cewek Shin Young Hee itu pelan-pelan, kayanya takut salah atau takut gue nggak nangkep maksudnya. Gue tau, maksudnya ‘friend’. Tapi logat orang Korea yah, susah bener ngomong huruf F.
Gue mengangguk ragu-ragu. “Y-yes..”
Kalo nggak salah, tadi YooChun bilang ama mereka kalo gue temen lamanya, kan ya? Yah, boong dikit nggak apa-apa deh.
“Girl pren?” tanyanya lagi.
Ha?
Gue buru-buru menggeleng dan menggerakkan tangan gue pertanda ‘bukan’.
“Oh, no, no... Just friend.”
Kalo gue ngaku-ngaku ceweknya YooChun, bisa gawat nih urusannya ntar. Nggak cuma ama crew manajemennya, tapi juga ama fans TVXQ di seluruh dunia!
Kedua orang itu tampak lega. “Oh... okay.”
“Igo... uhmm, you will go with YooChun?” tanya si Shin Young Hee lagi.
Gue menggangguk lagi. “Yes.”
Kenapa nih? Nggak boleh ya?
“Ah, Okay.” Kata Young Hee kayanya paham. “But... Please be careful?”
Gue menggangguk sambil berusaha memahami kata-katanya yang cuma sepetil-petil itu.
“YooChunie ga..., Ani, YooChunie, -have-, maaaany many, uhmm... fans,” kata si cowok Park Tae Jun itu terpatah-patah.
Gue meringis. “Oh, yes, I understand.”
“Yes?” wajah Young Hee tampak mengharapkan gue ngerti. “If you go with YooChun, be careful... Uhmm, many fans.”
“Bikoje... Bikoje..” si Park Tae Jun itu menyambung. Eh tunggu-tunggu. Gue nggak ngerti ‘bikoje’ artinya apaan. Kening gue sampe berkerut.
“Uhmmm... bikoje? What?” tanya gue.
“Be-cooooze,” kata si Tae Jun dengan jelas dan lambat.
OOOHH ya ampun. Setengah mati deh ngomong bahasa Inggris ama orang Korea. ‘Bikoje’ itu tadi maksudnya ‘because’. Huahahaha.
Gue mengangguk paham.
“Becoz... we, in Indonesia, is secret,” lanjut si Tae Jun.
Oh oke deh. Ngerti ngerti. “Okay.”
“Okay? Ah. Okay. Uhmm, if you go with YooChun, be careful, fans do not know. Dong Bang Shin Ki in Indonesia, secret. Yes?” kata si Young Hee lebih menjelaskan.
Gue meringis. Ngerti deh maksudnya.
“Yes, okay. I Understand. No fans,” ujar gue.
Young Hee dan Tae Jun tampak lega. Mereka senyum-senyum. “Okay. Understand. Thank you.”
Gue jadi meringis lagi. Capek deeh ngobrol setengah nggak nyambung gini.
“Cindy... like Dong Bang Shin Ki?” tanya Tae Jun.
Gue mengangguk. “Yes.”
“Fans?” tanyanya lagi.
Gue menggeleng. “No.” Yang ini, gue jujur.
Young Hee tampak terheran.
“Korea artist.. you know?” tanyanya.
Gue menggangguk. “Yes.”
“You like, who?”
Gue berpikir sebentar. “Uhmmm, many. Dong Bang Shin Ki, Shinhwa, Fly To The Sky, SG Wannabe...”
“Wuaahh, many!” Dua orang itu tampak bersemangat.
Gue jadi ketawa. “Yes, many.”
“Hey.”
Gue menoleh.
Ternyata YooChun sudah ada di sebelah gue.
“Oh, hey,” kata gue sambil meringis. Akhirnya ada yang menyelamatkan gue dari salah sambung.
“Oh! YooChun-a.” Si Tae Jun tampak bersemangat melihat YooChun. “%^@%^%&^$@ &!$%$)(!$!#@...”
Oke, oke. Gue mulai pusing waktu Tae Jun mulai nyerocos pake bahasa Korea. YooChun tampak mengangguk-angguk dan tertawa-tawa.
Gue bengong dengan sukses aja deh.
“Cindy, Tae Jun hyung said that he wants us to be careful not to let other fans see us. Because our visit to Indonesia here is secret, only for photoshoot,” kata YooChun menjelaskan.
“Oh yeah, I understand that. They told me earlier,” jawab gue.
Young Hee mengucapkan sesuatu dalam bahasa Korea ke YooChun. Lalu YooChun menjawabnya.
“Young Hee nuna said sorry because they can’t speak English very well, so you might not understand,” kata YooChun lagi.
Gue tersenyum. “Oh it’s fine. I can understand.”
Young Hee dan Tae Jun tersenyum-senyum ke arah gue. Lalu mereka berbincang lagi dalam bahasa Korea. YooChun juga. Wah, serasa nonton film Korea nggak pake teks. Nggak ngerti apa-apa, hahahaha.
Tae Jun menyerahkan sebuah handphone kepada YooChun, lalu mereka berdua bangkit dari sofa.
“Okay, let’s go now,” kata YooChun sambil menggamit lengan gue untuk berdiri dari sofa. Gue berdiri.
YooChun megucapkan sesuatu kepada Young Hee dan Tae Jun lalu membungkuk sedikit. Gue tanpa sadar ikut membungkuk. Kayanya dia pamitan deh.
Tae Jun menepuk-nepuk pundak YooChun sambil mengatakan sesuatu. Young Hee ikutan ngomong. Yah, film Korea tanpa subtitle itu masih berlangsung di depan mata gue.
“Bye,” kaya Tae Jun kepadaku.
“Be careful, bye,” kaya Young Hee juga.
Gue meringis dan mengangguk dan melambaikan tangan. “Bye.”
Setelah mereka berdua berlalu, gue melotot ke arah YooChun. Yang dipelototin malah cengar-cengir.
“Tae Jun hyung borrowed me his handphone, so I can communicate with the others,” kata YooChun bersemangat. “Let’s go!”
Lalu ia menggeretku ke depan hotel.
Gue menghela nafas. “Where are we going, anyway?”
YooChun memanggil petugas valet. Gue menyerahkan tiket valet dan menunggu mobil gue datang.
“Hmmm, anywhere!” kata YooChun. “I bring money. Indonesian! So you can choose where you want to go. Around this city! But Hyung said we have to go back to this hotel before 5.”
Semangat bener, mas.
Mobil gue sudah datang. Gue menghela nafas dan mau nggak mau nyengir juga melihat YooChun yang semangat bener. Gue dan YooChun segera masuk ke mobil.
“Allright,” gue memasang sabuk pengaman gue. “We’ll go around this city.”
Dan karena ini adalah satu-satunya sekempatan dalam hidup gue untuk kencan bareng seorang Micky YooChun dari TVXQ, semangat gue juga langsung muncul.
YooChun tersenyum lebar.
“Whoohoo! Let’s go!”

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 05:47 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 7

Kalau elo diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kencan sama seorang artis ngetop dari Korea (cakep pula) di Jakarta ini, kira-kira kemana?
Ternyata gue nggak perlu susah-susah mikir. Karena artis ngetop dan cakep yang lagi jalan bareng gue ini ternyata berjiwa turis sejati. Alias nggak bisa diem kalo ngeliat hal-hal yang nggak biasa di kampung halamannya.
Dan begitulah waktu mobil gue melintasi jalan Medan Merdeka. Begitu melihat benda kuning mencuat di tengah lapangan, dia langsung bersemangat.
“What’s that?” tanya YooChun.
Gue melirik arah yang ditunjuknya. “Oh. That’s our National Monument. We call it Monas.”
Dan selanjutnya.... Udah bisa ditebak, deh.
Yap. Gue dan YooChun ke Monas.

Bener-bener deh. Dari semua tempat bagus yang ada di Jakarta. Dari semua tempat kencan yang romantis, yang lebih menyenangkan. Kalau di film-film, biasanya kencan itu ke taman hiburan, atau pantai (kalo di Jakarta, ya daerah Ancol, lah ya). Tapi kenapa bisa-bisanya gue bisa berada di tempat ini ????
Monas.
Gue aja yang lahir, gede, sekolah, makan, pipis di kota Jakarta ini, belum pernah sekalipun ke tempat yang namanya Monas!
Dan sekalinya gue kesini, yang bersemangat ngajakin adalah seorang Micky YooChun! Ampun deh.
“it’s freaking hot, are you sure you want to go here?” tanya gue sekali lagi memastikan waktu gue baru markir mobil.
YooChun mengangguk semangat.
“Don’t worry, I bring hat and sunglasses. Here, you can wear too.” YooChun mengambil sebuah topi dari dalam tasnya dan meberikannya kepadaku. “I found it in the hotel room, I think it’s JaeJoong hyung’s. But that’s okay. Just wear it.”
Gue meringis sambil menerima topi itu dan memakainya. Bagus, udah menculik anak orang, nyolong topi orang pula.
“The people in Embassy said that Monas is the icon of Jakarta. Like, Liberty statue in New York. I think it’s good to go here, we can see Jakarta from the top, right? I bring camera too.”
Tuh kan apa gue bilang. Jiwanya turis sejati. Pake bawa kamera segala.
Akhirnya dengan berbekal topi dan kacamata item, gue dan YooChun mulai berjalan-jalan di sekitar Monas. Karena hari ini hari Senin, dan musim liburan sekolah udah selesai, jadi nggak begitu banyak pengunjung saat ini. Paling-paling beberapa keluarga dan anak-anak kecil, dan orang-orang pacaran (ada juga yah ternyata, yang memilih kencan panas-panasan di Monas, selain gue dan turis dadakan ini).
Ada untungnya juga sih ke tempat kaya gini, di mana jarang-jarang bisa ditemukan fans TVXQ maupun AGJ (anak gaul Jakarta). Mana mau mereka berpanas-panas ria di siang hari bolong kaya gini di Monas. Nggak usah jauh-jauh deh, Sassy dan Ryan kalo sampe gue bawa ke sini, pasti udah kabur takut meleleh. Well, gue juga kalo bukan karena YooChun, kayanya seumur-umur nggak akan pernah ke sini.
“How come you never visit this place?” tanya YooChun sewaktu kami sudah berhasil mencapai puncak Monas.
Gue meringis.
“Because... I went pass through it everyday,” alasan gue. “So I never thought of visiting this place.”
“Whaahh... I can see Jakarta from here!” seru YooChun sambil mengintip di balik teropong. “Come come, look here!”
Gue diseret mendekat dan melihat ke teropong. Gue jadi ketawa geli.
“Can you see our hotel? And your apartment?” tanya YooChun.
Gue ketawa. “Yes, I can see those buildings.”
YooChun tampak terkagum-kagum melihat banyaknya penjual mainan dan asongan yang berserakan di sekitar Monas. Ada yang jual topi, kacamata item, mobil-mobilan, balon, boneka Naruto, gulali, es krim, akua, teh botol, sampai tukang poto keliling. Semua disamperin ama YooChun. Dan hampir semuanya dibeli. Gue sampe harus menggeret-geret dia agar nggak kalap. Berkali-kali YooChun memotret Monas dan sekitarnya, termasuk gue dan dirinya sendiri. Yah, narsis dimana-mana sih sama aja yah.
Setelah puas berkeliling, gue memutuskan untuk cabut dan ngadem. Di mana lagi tempat ngadem kalo bukan di mall, hahaha.
Baru aja mobil gue mau keluar dari parkiran, terdengar bunyi handphone berdering. Punya YooChun.
“Yoboseyo? Oh! @^!%^%!!! !*(^*&@%? $#&%^#^$^#...”
Mulai lagi deh bahasa Koreanya nyerocos. Sementara YooChun ngoceh, gue nyetir keluar dari area Monas. Gue mulai berpikir, kira-kira ke mall mana ya yang nggak banyak orang tau tentang TVXQ...
“Cindy! Junsu called me. Can we meet other TVXQ member?” tanya YooChun. Itu handphone masih nempel di kupingnya.
Gue menoleh dan mengangguk. Oh, rupanya yang nelpon para member TVXQ yang lain. Bagus deh, akhirnya ada yang nyadar kalo salah satu membernya ilang diculik cewek sinting (alias gue).
“Sure,” jawab gue. “Where are they now? Are they still in Senayan City?”
YooChun kembali ngoceh dengan handphonenya.
“They are visiting the Korean ambassador’s house and have lunch together at a restaurant... Wait, wait.” YooChun menanyakan sesuatu dalam bahasa Korea ke orang yang meneleponnya. Lalu tampaknya ia sedikit berargumen.
“Uhhmmm, do you want to come to the ambassador’s house?” tanya YooChun.
Apa??
Gue melotot. Aduh males banget deh! Nggak liat kostum gue apa, gue kan cuma pake t-shirt, celana pendek dan sendal jepit! Kalau mau ketemu duta besar atau pejabat itu ya, paling nggak musti rapi, pake sepatu kek, dan bukan pake baju obralan yang cuma bisa ditolerir di mall.
“No, YooChun,” jawab gue. “But I will take you to the ambassador’s house and let you go with your friends. But I’m not coming.”
YooChun memandang gue dan terdiam. Lalu dia berbicara lagi di telepon (tetep, pake bahasa dunia belahan Korea itu).
Gue menyetir pelan-pelan sepanjang silang Monas. Sampai cowok satu ini menentukan tujuan, mendingan gue muter-muter sini dulu deh. Daripada nyasar atau bolak-balik.
Tiba-tiba handphone gue bunyi. Ada SMS. Dengan satu tangan menyetir, gue mengecek handphone gue.
Sender : BANG IYUS
Message : “Neng, DVD serian yang Neng cari udah ade, neh. Mo diambil kagak? Kalo gak, abang jual ke yang lain ye.”
Waduh!
Gue buru-buru menelepon balik. Mang Iyus itu salah satu orang penting dalam hidup gue. Lebih penting daripada duta besar negara manapun saat ini.
“Halo?”
“Eeeh neng Cindy. Tadi baru Abang SMS, neng..” terdengar suara bang Iyus yang tertawa sumringah.
“Ya iyalah, bang, saya nelpon abang kan juga gara-gara situ SMS! Eh, DVD saya udah ada ya?”
“Oh, iya nih! Aduh, eneng sih cari DVD yang lagi laku, susah bener nyarinye! Eneng ambil dah nih.”
Gue melirik YooChun. Yang dilirik juga lagi asik nelepon. Yaah, gimana gue ngambilnya? Gue lagi jadi supir…
“Nnngg, oke deh bang. Besok aja ya saya ngambilnya,” ujar gue.
“Wah, nggak bisa neng! Ini DVD udah banyak yang ngincer! Kalo eneng nggak ngambil hari ini, ya abang jual aja ke yang lain dulu yak. Udah banyak yang nyariin tu pilem.”
Kening gue sampe berkerut-kerut. Ini si abang kok maksa sih?
“Yeee, abang jahat amat! Kan saya pesen duluan... Jangan dikasi ke orang lain dong, bang.”
“Ya udah atuh neng Cindy ke mari..”
Doh, pengen ngejambak deh. “Nggak bisa hari ini bang, lagi sibuk banget nih.. Abang simpenin sampe besok deh ya? Besok pagi saya ambil.”
“Ya udah kalo mau besok, sekarang saya jual dulu... Besok saya cariin lagi deh... Kali aje masih ada..”
“Yee ngancem!” gue mulai sewot. YooChun tampak udah selesai telpon-telponan. “Eh bang Iyus, ntar saya telpon lagi deh! Jangan dijual dulu ya, awas.”
“Ya udeh abang tunggu sejem lagi yah. Kalo neng Cindy ga ngabarin, abang jual.”
Gue mematikan handphone gue. Aduh ini penjual DVD semena-mena bener. Gue emang udah lama ngincer sebuah judul DVD serian. Eh begitunya dapet, si abang penjual DVD langganan gue ini maen tindas seenaknya.
Ah, urusan DVD bentar dulu deh. Ini ada cowok cakep bertampang bingung di sebelah gue.
“So?” tanya gue. “How’s it going then?”
YooChun mengedikkan bahunya.
“If you don’t want to go to the ambassador’s house, then I won’t go there too.”
Gue nyaris keselek. “Kok gitu sih?” jerit gue tanpa sadar.
“What?”
Gue meringis. Lupa. Gue mau ngoceh-ngoceh pake bahasa Indonesia juga dia nggak bakalan mudeng.
“I mean, you should go. I’ll drop you there. You see, I don’t wear anything formal or even decent enough to meet an ambassador,” cetus gue.
“Well, me too!” ujarnya.
Gue melirik YooChun. Yah, dia emang juga Cuma pake kaos dan celana jeans sih.
“But you’re a Korean celebrity. You can wear anything you want.”
YooChun terdiam.
“But anyway, I don’t want to go,” cetusnya setelah beberapa saat. “I want to go around the city with you. So... Let’s just go wherever you want.”
Wherever I want? Serius nih terserah gue?
“But how about your friends?”
“I told them that I will meet them at the hotel this afternoon at 5.”
Gue menarik nafas. Yahh, terserah elo deh kalo gitu.
“So,” YooChun tersenyum ke arah gue. “Where are we going now?”
Gue memandang ke arah YooChun.
“You said wherever I want to go?” tanya gue sekali lagi.
YooChun mengangguk dan tersenyum.
Gue jadi nggak enak. Ada sih... tempat yang skarang pengen gue pergi... Tapi kira-kira dia mau nggak ya...
“Well... There is one place I need to go right now...” gue jadi nggak yakin. “But I’m not sure-”
“Okay then! Let’s go there!” YooChun memotong tiba-tiba.
Ha? Beneran nih?
YooChun tersenyum yakin. Duh, jangan nyesel deh ya...
“Okay then,” kata gue memutuskan. “We’ll go there.”
Gue membanting setir ke kanan.
Bang Iyus, tunggu gue!

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 05:54 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 8

Kalau gue dianggep gila, gue pasrah deh. Karena gue sendiri juga nyadar kok. Cewek normal lainnya nggak akan menggondol seorang Micky YooChun ke pelosok Glodok.
Yap, gue memutuskan untuk mengajak YooChun ke Glodok.
Ngapain? Well, karena tadi di mobil, tukang DVD langganan gue, Bang Iyus, menelepon gue dan bilang kalau dia udah dapetin DVD serian yang gue incer selama berminggu-minggu. Gue harus ngambil hari ini, kalau nggak si abang itu bakal menjual ke orang lain. Dan bang Iyus tersayang itu adalah salah satu bandar DVD bajakan yang lumayan paten di Glodok. Lapaknya nggak pernah sepi pembeli.
Sewaktu memarkir mobil, gue mengecek sekali lagi untuk memastikan YooChun nggak terlihat mencolok seperti seorang, well, YooChun. Hahaha. Maksud gue, biar nggak keliatan kalau dia artis, gitu.
“Okay, do you have a glasses?” tanya gue.
YooChun mengeluarkan kacamata hitam dan kacamata berlensa bening.
Gue ambil yang lensa bening. “Don’t wear sunglasses inside the building. Here, you wear this one.”
YooChun menurut dan memakainya.
“The hat also,” kata gue. YooChun menurut juga. Enak yah kalau semua orang gampang nurut kaya dia.
“Allright listen,” gue ingatkan sekali lagi. “Stay close to me, don’t lose because inside, is a very crowded place. It’s some kind of flea market, and you might not like it very much. But I need to go there, just a minute, okay? And don’t talk to anyone but me. If you find me talking in Indonesian to you, just nod. Because if anyone recognize you, I’ll tell them that you’re my brother. Are we clear?”
YooChun tersenyum lebar. “Aye, sir!” Dia tertawa. “This is fun.”
Fun gundulmu. Deg-degan sih iya. Kalau ketahuan fans, bisa dipanggang hidup-hidup gue sama si om Tae Jun. Belum lagi keinjek-injek Cassiopeian. Hiiy.
Gue membuka pintu mobil. “Let’s go.”
Gue mulai menyusuri liku-liku gedung pasar Glodok yang menjual segala macem barang elektronik. Setiap jengkal gue melangkah, pasti ada mas-mas yang menawarkan mulai handphone, DVD player, AC split, laptop, kulkas, sampe pilem bokep. Gue sesekali menoleh untuk memastikan YooChun tetap ada di belakang gue. Kalau sampai ilang, gawat banget. YooChun tampak terseok-seok mengikuti gue yang berjalan agak cepat melewati gang sempit penuh penjual. Akhirnya ia menggapai tangan gue dan menggandeng. Gue menoleh kaget. Tapi gue nggak ngelepasin tangan dia juga sih, soalnya daripada nanti dia ilang... Tapi deg-degan juga sih gandengan ama YooChun, huahahahahaha.
Tujuan gue adalah lantai tiga, tempat lapak bang Iyus berada. YooChun tampak agak tegang. Hahaha. Pasti dia nggak mengira akan diajak ke tempat sempit tanpa AC kaya gini.
Begitu gue mencapai lantai tiga, gue langsung menuju lapak Bang Iyus. Yang punya lapak udah kelihatan cengar-cengir dari kejauhan.
“Naah, dateng juga nih si neng,” sambut bang Iyus ceria banget.
“Oi. Situ maksa sih, saya jadi buru-buru deh kesininya,” protes gue. “Mana DVD saya?”
Bang Iyus mengeluarkan segepok DVD serian pesanan gue. Mata gue langsung berbinar.
“Nih, DVDnya...” Bang Iyus cengar-cengir lagi. “Pantesan si neng sibuk. Lagi ama pacar, ye?” tuduh bang Iyus sambil melirik-lirik ke arah YooChun yang tampak syok melihat pemandangan lautan DVD bajakan di depan dia. Gue melotot ke arah bang Iyus.
“Bukan! Enak aja nuduh,” ujar gue cepat-cepat. “Ini kakak saya.”
“Aaahh kakak ketemu gede, kaliii...” goda bang Iyus sambil tertawa-tawa.
Gue memutuskan untuk pura-pura nggak peduli.
YooChun menggamit lengan gue. “Cindy! There’s a lot of movies DVD here! And Korean movies too!” bisik YooChun masih dalam suasana takjub. Gue sampe ketawa.
“Yeah. This is the central place of pirated DVDs retailer in this country. I can’t say that I’m proud of it, but it’s really value especially when you want to find the rare one with good price. Much better than downloading from the internet,” kata gue menjelaskan.
“How much is this stuff?”
“Hmmm if you put in in US dollar, then it’s about 50 cent for one DVD. I got cheaper price because I’m some kind of regular customer to that guy,” ujar gue sambil nyengir ke arah bang Iyus.
Tampang YooChun langsung berubah sumringah, sama seperti ketika jalan-jalan di Monas tadi.
“Awesome,” cetusnya. “I’m gonna buy some too.” Lalu ia mulai mengoprek-ngoprek DVD di lapak bang Iyus. Mau nggak mau gue jadi ketawa melihat antusiasme si artis kesasar ini.
“Neng Cindy, ini ada DVD pesenannya Neng Sassy juga ude dateng nih. Tapi saya SMS-in si Neng Sassy kok nggak bisa-bisa yah. Mau Neng Cindy ambil aje kagak sekalian? Kalo nggak, abang jual aje nih, banyak juga yang nyariin,” ujar Bang Iyus.
“Ha? Si Sassy lagi di luar negeri, bang, tar malem baru nyampe Jakarta,” kata gue. Itu anak emang kemaren berlibur keliling Eropa seminggu bareng keluarganya yang tajir banget ajah.
“Oooh. Kalo gitu ni DVD abang jual aje ke orang dulu ye? Besok abang cariin lagi dah. Ato mau neng Cindy ambil sekalian aje?” tanya si Bang Iyus.
“Yee abang, mendingan gue bawa skalian, dong! Ntar kalo abang jual ke orang laen, diamukin Sassy tau rasa loh,” cetus gue. “Emang dia pesen DVD apaan sih?”
“Ini, pilem serian Korea,” jawab Bang Iyus sambil menyengir lebar. “Hong Gil Dong, masa Hong Gil Lah.”
Anjrit.
Saking garingnya, gue sampe cuma bisa bengong, nggak mampu ketawa.
“Idiiiiiiiiihhhh najis banget garingannya!” seru gue setengah sebel setengah geli. Si Bang Iyus ini ketawa-kata, bangga bener bisa bikin joke nggak penting kaya gitu. YooChun sampe menoleh dan terbengong melihat gue dan bang Iyus ketawa-ketiwi.
Oopps gue sampe hampir lupa kalo lagi bawa artis ke sini. Gue lihat YooChun sudah mulai menumpuk DVD-DVD pilihannya. Beberapa film barat dan beberapa film Korea, juga beberapa anime. Eh buset, banyak banget! Ini anak ngeborongnya kalap bener. Emangnya di Korea nggak ada barang beginian ya?
“Isn’t there any pirated DVD in Korea?” tanya gue setengah berbisik sambil ikutan ngoprek di sebelah dia. “You got a lot of stuff here,” ujar gue sambil menunjuk tumpukan DVD pilihannya.
YooChun meringis. “I guess there are some. But I don’t know where to find, and besides, in Korea or Japan, I can’t just go out to the public place like this.”
Gue manggut-manggut. Oh iya, kasihan juga ya jadi artis. Nggak bisa jalan-jalan ke sendirian. Pantesan dia seneng banget bisa keluyuran hari ini.
Karena yang namanya lapak DVD di Glodok itu cuma sepetak doang, sementara pengunjung membludak, gue harus bertahan memposisikan diri dan Yoochun biar aman nggak terdesak-desak pembeli lain. Gue nggak berniat lama-lama sih di sini, secara pembeli DVD di sini kan biasanya paling apal ama tampang artis Korea. Kalau sampai mereka mengenali cowok berkacamata dan bertopi di sebelah gue ini sebagai Micky YooChun, bisa gawat.
Gue berbisik pada YooChun untuk cepat-cepat memilih DVD, lalu menyatukannya dengan DVD pilihan gue. Gue langsung menyerahkan setumpuk DVD ke Bang Iyus untuk dihitung jumlahnya.
“Eh, eh... cowok yang di situ itu mukanya kaya kenal, yah?”
Tiba-tiba dua orang cewek yang tadi berdiri deket gue menjawil tangan gue.
Gue sampe terlonjak.
“Ha? Cowok yang mana?” tanya gue balik ke dua cewek itu.
“Ituuu... yang pake topi...,” kata salah satu cewek itu. “Kaya artis...”
WHADUH GAWAT! Merekas mulai mencermati YooChun. Gue cepat menoleh ke Yoochun. Yang dilihat lagi cuek melihat-lihat DVD, nggak nyadar bahaya.
“Ooohh... hahahahahahahaha! Bukaaaaannn! Hahahahaha!” Gue mulai pura-pura ketawa kenceng. “Itu mah kakak saya! Hahahaha emang dia sering dikira artis kok, ahahaha udah biassaaaa...”
Mereka percaya nggak ya? Mampuix.
“Nngggg .... oyah?” Kedua cewek itu mengerutkan kening sambil tetap mengamati YooChun agak ragu. “Tapi.. mirip kaya personel boyben Dong Bang-”
“Nggaaaaakkk!! Bukan koookkk!” sergah gue cepat-cepat sambil tertawa palsu lagi. “Dia juga suka kege-eran. Aslinya mah Cianjur asli, ini lagi jalan-jalan ke Jakarta cari DVD. Di Cianjur mah nggak ada tukang DVD bajakan, ahahaha..” Gue mulai melancarkan alibi. Aksen gue sengaja gue buat-buat agak nyunda biar lebih meyakinkan. Moga-moga kedua cewek ini bukan orang Cianjur, kan bisa berabe. Gue mana tahu kalo di Cianjur ada tukang DVD atau nggak!
“Ngg, tapi-”
“Ah lagian kalo artis mah nggak mungkin juga kaliii, jalan-jalan ke Glodok. Gue juga mau ketemu artis di sini,” cetus gue.
Kedua cewek itu manggut-manggut setuju, walopun kayanya masih ragu-ragu. “I-iya juga siihh...”
Bang Iyus menyerahkan DVD gue dan menyebutkan total yang musti gue bayar. Buru-buru gue menyerahkan duit gue. “Nih ya bang, pas deh! Ama punya Sassy juga. Tengkyu yah!”
Gue mencengkeram tangah YooChun. “Eh, Koh Joni! Gue udah bayar nih. Cabut yok, si mamih kan pengen dibeliin asinan juhi. Ntar tukang yang di depan sono keburu abis, lagi,” ujar gue kepada YooChun.
Gue berdoa semoga YooChun masih ingat aturan main gue tadi.
YooChun tampak bengong sesaat, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk-angguk.
Gue meringis lega dan mulai menggeret YooChun pergi dari lapak Bang Iyus.
“Cabut dulu ya, Bang Iyus! Tengkyu yah!” seru gue pamit sama si Abang.
“Ha?” Bang Iyus agak bingung. “Buru-buru amat. Biasanya juga ngetem dulu... ngopi-ngopi dulu keek..”
“Aduh nggak pake ngetem, deh! Ni kakak saya mo nyari tukang asinan dulu buat oleh-oleh ke Cianjur, ntar keburu abis juhinya,” alasan gue ke Bang Iyus.
Gue meringis dan cepat-cepat melewati dua cewek itu. “Yuk, saya pergi dulu yah.”
“Yuuuk dadah babaaii! Makasih ye! Ntar kite SMS-an lagi aje ye, neng!” seru Bang Iyus mengantar kepergian gue dan YooChun. Ya elah kecentilan bener si Abang. Gue melambai dan buru-buru berjalan menghilang dari pandangan kedua cewek itu.
Ketika gue menuruni tangga ke bawah, gue menoleh sekali lagi ke belakang. Bagus, nggak ada yang nguntit. Tanpa sadar gue mengelus dada sambil menghela nafas. Slameeet, slameeet..
“What?” tanya YooCun sambil menggoyangkan tangan gue. Eh, gue baru nyadar kalo dari tadi gue menggandeng tangan dia. Duh jadi grogi, ehehe. Tapi nggak mau gue lepasin juga. Kan daripada ntar ilang, hehe. Alasan banget yah gue.
“Nnngg, nothing.” Gue meringis dan tetap berjalan menerobos gang sempit penuh lapak DVD. Percuma kalau gue jelasin sekarang. Nanti aja lah kalau udah nggak rame orang.

Kami kembali ke tempat parkir dan masuk ke mobil. Huff, panas juga. Gue segera menyalakan mesin mobil dan menyetel AC. YooChun melepas topi dan kacamatanya.
“You were talking in Indonesian to me back there,” cetus YooChun sambil memasang seat belt. Wajahnya tampak berbinar, walaupun agak keringetan. “What was the meaning?”
Gue memandang dia dan menyerahkan segepok tissue kepadanya. Kasihan juga sih, dia sampe keringetan gitu gue ajak ngubek-ubek pasar Glodok. YooChun mengambil beberapa lembar dan mengusap wajahnya. AC mobil gue langsung gue setel full. Gue juga gerah, kali.
“Nnng, actually there were some girls recognized your face. They said you look familiar. So I told them that you’re my brother,” jawab gue jujur.
YooChun ketawa. “Whahh, that was close,” katanya cekikikan. “I thought you call me ‘YooChunie’ at that time?”
Ha? Nggak kok. “No,” jawab gue. “I called you ‘Koh Joni’. Just to convinced them that you are Indonesian.”
Ketawa YooCun tambah kenceng. Dodol deh. Gue jadi ikutan ketawa.
Gue mulai menjalankan mobil pelan-pelan keluar dari parkiran. Hm, abis ini kemana ya?
“Hey, thanks for bringing me to that place,” kata Yoochun berbinar-binar. “I got a lot of DVDs. The other members must be jealous, hahaha.”
Gue nyengir. “Sorry the place wasn’t very comfortable. You’re sweating.”
YooChun menggeleng. “No problem. I like to go places like that, you know. I can see a lo of stuffs.”
Gue menoleh. “Really?”
YooChun mengangguk.
Kalau gitu... Tiba-ada ada sebuah ide gila (lagi) melintas di otak gue.

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 06:00 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 9

“Hmm... so now.. Where do you want us to go?” tanya gue.
YooChun mengedikkan bahunya sambil tersenyum.
“Up to you. You’re the one who knew interesting places.”
“Do you mind if we go to another flea market?” tanya gue iseng. “I mean, better one, at least. Not as hot as in that place. But there are lots of stuffs like, clothes, watches, fake bags, fancies... And you can bargain and get good quality stuffs.”
“Cool,” jawab YooChun sambil meringis. “Let’s go there. Maybe I can buy stuffs for the members.”
Gue ketawa. Serius nih? Well, Mangga Dua udah deket banget sih...

“Okay then, we’ll go to Mangga Dua,” cetus gue memutuskan.
“Mang-ga Du-a,” ulang YooChun mengiyakan. “How can I bargain?”
“Oh, you don’t have to. I’ll bargain the price, you just have to show me the stuff you want.” Ya iya lah, masa gue suruh YooChun yang nawar?
“You’re so much fun than my PA from Embassy, that Mr. Bump,” cetus YooChun riang.
Gue nyengir. “Bambang,” ralat gue.
“Oh yeah. Bang-Bang?”
Gue melengos. “Whatever, lah.” Cape deeh.

Gue membelokkan mobil gue ke area parkir Mangga Dua. “Okay,” cetus gue. “Since you said you’re okay with flea market, I’m gonna take you here, the biggest shopping market in Jakarta. But like I said, we still have to be careful with fans who might recognise you. And it will be very crowdy inside, and the risk is bigger than before.”
YooChun mengangguk. Wajahnya tampak serius, tapi semangat. “I got it. I’ll be very careful. If anyone recognise me, I’ll be your brother, Koh Joni.”
Gue ketawa. Masih inget rupanya. “Okay good.”

Setelah memakai kembali topi dan kacamatanya, YooChun keluar dari mobil dan bersama-sama kami memasuki gedung ITC Mangga Dua. Anjreet, rame aja. Yah, namanya juga MangDu. Walaupun hari ini hari Senin, tapi tetep aja rame.
Gue menggandeng tangan YooChun dan menggeretnya menuju tempat penjual-penjual tas. Kebetulan gue butuh tas baru buat kuliah. Para penjual sudah mulai berteriak-teriak menawarkan dagangannya, lengkap dengan harganya. Gue dan YooChun mulai menelusuri tiap lapak, mencari-cari dan memilih-milih tas.
“Bang, itu berapa?” tanya gue ke seorang abang penjual tas sambil menunjuk sebuah tas Louis Vuitton (yang nggak mungkin asli).
Si abang penjual langsung mengambil barang yang gue tunjuk.
“Oh barang bagus nih, dek. Model baru. Abang kasih dua ratus lima puluh, dah.”
Gue memeriksa tas itu. “Mahal amat. Biasa juga goban.” Lima puluh ribu, maksud gue.
“Ini kualitas bagus, dek. Hong Kong punya. Kalau mau yang gobanan, itu tuh,” kata si abang berlogat Batak ini sambil menunjuk sederet tas di dekat gue.
“Ah nggak mau! Saya maunya ini. Kurangin dong.”
“Adek maunya berapa?”
Gue berpikir sebentar. “Delapan puluh deh.”
“Tambahin lagi, lah ya. Seratus lima puluh saja lah.”
“Nggak mau. Cepek deh, pas.”
“Aduh, nggak dapat lah dek..” si abang Batak mulai menunjukkan tampang putus asa.
Gue pura-pura ngeloyor.
“Tambahin sepuluh lagi lah, ya,” tahan si abang.
Gue menoleh. “Nggak. Cepek, kalo nggak boleh ya udah.”
“Ah si adek ini, cantik-cantik pintar pula menawar,” si abang batak mulai pasrah. “Ya sudahlah, mau beli berapa?”
“Satu aja, kali.” Jawab gue. Yes, menang.
Si abang membungkus tas LV itu ke dalam kantong plastik hitam dan menyerahkannya ke gue. Cepat-cepat gue serahkan selembar uang seratus ribuan kepadanya.
“Tengkyu, bang!”
“Ya sering-sering kemari ya, dek!” ujar si abang sambil mengipas-ngipaskan uangnya ke barang-barang dagangannya.
Hihihi. Misi gue mendapatkan tas, berhasil.
YooChun tersenyum ke arahku.
“Wow, you got a nice bag,” cetusnya.
Gue meringis senang. “Yep! And I got this for only a hundred thousand rupiah. That is.. about 11 dollars.”
YooChun terbelalak.
“Whoa! I’m gonna find some bag too.”
Terus YooChun jadi semangat ngubek-ngubek lapak tas. Gue jadi geli.
Di lantai atas, gue dan YooChun mulai berburu kaos. Banyak t-shirt murah yang lucu-lucu, lumayan buat kuliah dan jalan-jalan. Buat tidur juga adem. Gue dan YooChun membeli dua buah t-shirt yang sama, karena gue pikir toh gue nggak akan pernah make barengan, gitu. Tapi kan seru aja punya kaos yang sama kaya Micky YooChun, hehe.
Lama-lama, kayanya YooChun mulai terbiasa melihat gue menawar. Pas di tempat baju-baju cowok, dia malah sempat nanya ke enci-enci (baca : cewek) penjualnya.
“Berapa?” tanya YooChun sambil menunjuk sebuah kemeja warna putih garis-garis.
Gue sampe melotot saking syoknya. Ini anak kok tiba-tiba biasa bahasa Indonesia???
“Seratus lima puluh ribu,” jawab si enci.
“Mahal,” cetus YooChun.
Wuuaaaahhhh ajaib!!
Tapi terus YooChun ngasih isyarat supaya gue menawar, jadi deh gue berhasil mendapatkan kemeja itu seharga delapan puluh lima ribu. YooChun tampak girang pas gue kasih tau harganya.
“How come you know Indonesian?” tanya gue penasaran setelah kita meninggalkan toko itu.
YooChun meringis. “I heard you said that word all the time when you ask, so I just said that.” YooChun tertawa. “I don’t know the meaning.”
Gue ngakak. Anak ini sotoy banget!
“What’s the meaning, anyway?” tanya YooChun.
Gue mendelik. “You should ask that before you said it.” Gue ketawa. “’Berapa’ means ‘how much’ and ‘mahal’ means ‘expensive’.”
YooChun tertawa. “See! I was right! That’s what I thought so!”

Gue agak lega sih melihat suasana di MangDu ini. Kayanya nggak banyak orang yang nyadar kalau gue jalan bareng ama seorang Micky YooChun. Well, mungkin karena banyak artis Indonesia juga yang suka belanja di sini, jadi orang juga udah pada nggak peduli, yang penting belanja. Paling banter orang mengira dia jebolan lomba Idol-idolan di TV yang nggak jadi ngetop. Atau mungkin karena tongkrongan YooChun yang putih dan ‘biasa’ banget (didukung oleh kacamata dan topinya), membuat dia kelihatan nggak beda dari para engkoh-engkoh juragan handphone di gedung sebelah.
Kalaupun ada enci-enci penjaga yang kelihatan agak mengamati atau terlihat curiga, gue langsung ngoceh asal pura-pura ngobrol ama Yoochun dengan bahasa Indonesia campur logat ajaib.
Misalnya, “Koh Joni, baju daster yang tadi bagus kan yah? Di Cianjur teh nggak ada yang kaya gitu. Ntar kita beliin buat oleh-oleh si mamih yah.” Dengan logat Sunda biar meyakinkan kaya orang Cianjur beneran. Dan YooChun cukup kooperatif dengan tersenyum dan mengangguk-angguk sok tahu. Hahaha.
Gue dan YooChun akhirnya melepas lelah sambil makan siomay di sebuah counter makanan kecil di lantai atas gedung itu. Kita udah dapet banyak barang, yang lebih banyak dibeli oleh YooChun sih. Secara dia kayanya agak kalap, gitu, semua barang ditunjuk ama dia. Gue jadi berasa kaya personal shopper, karena gue yang menawar dan membeli semua barang itu buat dia. Mulai dari tas, kaos, kacamata item, ikat pinggang, sampe gantungan handphone. Untung kali ini yang bayar bukan gue, karena YooChun menyerahkan dompetnya ke gue untuk belanja barang-barangnya. Dan dia cukup takjub karena isinya nggak berkurang begitu banyak (lagian siapa suruh bawa duit banyak bener). Sementara gue, dengan kantong mahasiswa gue, cukup belanja sekadarnya, karena duit gue lebih banyak habis di DVD dan bensin.
Pas lagi menyeruput teh botol, tiba-tiba handphone gue bunyi. Di caller ID-nya tertulis “RYAN”.
“Halo?”
“Halo, jeng, lagi di mana yey?”
Terdengar suara agak cempreng dengan taraf kegenitan melebihi batas normal. Itu suara Ryan, sahabat gue yang notabene juga pecinta artis-artis Korea. Terutama TVXQ. Gue spontan menoleh ke YooChun.
“Eh, bo... Eennng, gue di MangDu nih.”
“Ama siapa?”
Aduh, masa gue bilang ama YooChun.
“Ama... temen gue. Anak apartemen,’ jawab gue bohong.
“Ooh. Eh tadi si bang Iyus SMS gue, katanya elo udah ngambil pesenan DVD gue ya? Gue skarang on the way ke apartemen lu ya, ceu!”
Waduh! Bahaya nih!
“Eh, gue kan masih di MangDu..”
“Ya nggak apa-apa, gue tunggu aja di lobby. Emang abis ini lu mau kemana?”
Gawat nih. Kalau gue bohong lagi, si Ryan pasti bakal curiga. Temen gue yang satu ini punya sixth sense yang lumayan tajam, soalnya. Dia bisa langsung tahu kalau ada yang nggak biasa.
“Ennnggg....” Gue bingung. Beneran. Gue lihat jam tangan gue, masih jam empat kurang. Berarti paling nggak masih ada waktu sejam sebelum gue musti balikin YooChun ke hotelnya. Aduh gimana ya?
“Cindy? Heh, kenapa sih?” Ryan udah mulai curiga.
“Eh, nggak papa. Engg, ya udah deh, gue abis ini balik deh,” jawab gue akhirnya.
Yah, mungkin emang sebaiknya gue jujur aja deh daripada dikutuk seumur hidup ama dukun banci satu itu.
“Okaiii. Gue jalan ke sana ya bo. Baai.”
Gue menutup telepon dengan galau. Bakalan heboh nih ntar.
“Come on,” kata gue ke YooChun yang sedang menyeruput habis minuman sodanya.

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 06:21 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 10

Gue berpikir keras selama perjalanan dari tukang siomay sampai parkiran.
Kalau mau aman, gue musti balikin YooChun ke hotel dulu, baru nemuin si Ryan di apartemen gue. Tapi si YooChun mau nggak ya? Ah, harus mau lah. Kan gue supirnya, terserah gue donk mau gue ‘buang’ di mana penumpang gue. Hahaha. Tapi penumpang gue satu ini cakep sih.. agak sayang juga kalau musti cepet-cepet balikin dia ke hotelnya.
“Hey,” YooChun menowelku. “What’s up? Is something happened?” tanyanya.
Gue menoleh. “Huh? Oh, nggak papa.” Eh salah. “No, I mean, nothing.” Gue meringis sambil terus menyetir ke arah Kota. Untung nggak begitu macet. Jadi nggak nambah stres gue deh.
“Uhmmm, listen,” cetus gue. “I think I will have to drop you back to the hotel now.”
YooChun menoleh dan menggeser duduknya menghadap gue.
“Huh? Why?”
Gue menelan ludah sebentar. “Because... My friend Ryan called me and he said he wants to see me at my apartment.”
YooChun manggut-manggut. “Oh... Is that Ryan who you asked me the autograph for?”
Gue mengangguk. Orang ini ingatannya bagus juga. “Yeap.”
“Well, that’s good. Why don’t you let him meet me?”
Gue melotot. Ini anak kok nyari mati sih?
“Well, uhmm... Ryan is a TVXQ fan. A huuuge fan, if you know what I mean. And, and, your Tae Jun-ssi and Young Hee-ssi told us to be careful to avoid fans, remember?” Aduh, gue kok jadi panik.
YooChun tampak berpikir. “Weeell..., but Ryan is your friend.”
Ya emang siiihhh.... Tapiiiii....
“I think if it’s your friend, then it will be okay. You’re not gonna let anything bad happen, right.” YooChun tersenyum (maniiiiissss bangett!) ke arah gue.
Hampir aja gue nabrak mobil di depan gue saking syoknya. Aduh beneran deh, gue tau kenapa nggak bagus kalo nyetir didampingi seorang cowok ganteng. Bisa ilang konsentrasi dan rawan kecelakaan.
Gue nggak bisa ngomong lagi deh.
Bukannya gue jahat atau nggak sayang temen, ya. Gue tau kalau Ryan itu temen deket gue, sejak SMA malah. Tapi dia itu fans berat TVXQ yang punya kadar kegilaan diatas rata-rata.
“Is Ryan your boyfriend?” tanya YooChun tiba-tiba.
Gue hampir nabrak lagi!
“No!” jawab gue sambil melotot. Ini orang kok hobi banget sih ngagetin!
YooChun kelihatannya agak kaget juga, tapi trus malah ketawa-ketawa. “Oookaay, just guessing.”
Idih nggak penting deeehh.
Gue menghela nafas sejenak, menghilangkan syok yang barusan.
“No, Ryan is not my boyfriend. He’s my bestfriend since we’re entering high school. And although he’s a male species, but he has this fetish for teen idols, especially cute boys. And you can’t deny, that TVXQ at first were cute teen idols. So that’s why he became a huge fan of TVXQ,” kata gue menjelaskan.
YooChun manggut-manggut. “Hmm. So you think I’m cute?” tanyanya sambil meringis.
YA ELAAAHH BUKAN ITU INTINYAAA...
Gue sampai musti menonjok lengan orang di sebelah gue ini. Boro-boro gue jelasin, malah nyadar diri kalo imut.
“Eooww! Hahahaha, but you said TVXQ are cute teen idols. I’m TVXQ,” ujar YooChun masih sambil ketawa-tawa.
“I said ‘were’, that’s past tense,” samber gue setengah kesel.
“Oh, so TVXQ was cute. And now we’re not? Or are we cuter?” goda YooChun semakin menjadi-jadi.
“Aaaaaghh cape deeehh!” jerit gue setengah sebel setengah geli.
YooChun masih cekikikan. “What are you saying?”
Giliran gue yang ketawa. “Nothiingg... Just shut uuupp!”
YooChun sih tetep aja ketawa-ketawa nggak jelas.
“So,” YooChun mengecilkan volume CD player mobil gue setelah dia menemukan satu lagu lama Seo Taiji. “Why you don’t want me to meet your friend Ryan? Is he a bad fan, or something?”
Gue melirik ke arah YooChun yang ternyata belum merubah posisi duduknya, tetap menghadap ke arah gue.
“Well, I’m not saying he’s a bad fan or whatever.” Gue berpikir sebentar. “A freak fanatic! Yes, he’s a freak-o.” Gue tertawa tanpa sadar.
YooChun ikut terkikik. “What do you mean?”
“I mean,” gue tersenyum, “He’s a very emotional guy. He gets excited easily, and if something swings his mood, he could weeps for days. I know him for years, and I think, if he ever meet you, his idol, he could collapsed in ecstasy.”
“Wow. Interesting guy,” cetus YooChun sambil tersenyum. “He sounds very sensitive, but sensitive guys are mostly nice. And I’m sure he’s a nice guy since you’ve been a good friends for years.”
“Well, he is a nice guy. He’s one of my best friends.”
“But you don’t want your best friend to meet his idol?”
Gue terdiam. Bingung deh, sumpah.
“I don’t know.”
Kami terdiam selama beberapa saat.
YooChun mengganti lagu lagi di CD player gue, dan mulai menggumam mengikuti lagu.
“Hey, by the way... Thank you for taking me around this city.” YooChun menyandarkan kepalanya di jok mobil gue sambil memandang ke arah gue. “I had a real great time.”
Gue tersenyum.
“I had great time too,” jawab gue. “I never thought I could hang out with a superstar like you here.”
“Superstar?” YooChun tertawa. “I’m not superstar. In here, I’m Koh Joni, right?”
Gue tertawa.
“If any TVXQ fans knew that, they will kill me for sure.”
“TVXQ fans usually gave me presents like clothes, watches, CDs... But this time, I can pick and buy my own! I got lots of DVDs... clothes for me, hyungs, and my friends... Whahh. I wish I can do this more often in Korea or Japan.”
Gue tersenyum. Yah, nikmatilah selagi bisa. Kapan lagi seorang superstar bisa jalan-jalan ditemenin rakyat jelata kaya gue gini.
Ketika masuk Sudirman, gue mulai panik lagi. Hotel tempat YooChun menginap dan apartemen gue udah di depan mata. Aduh, gimana nih?
“Uhhmmm... So that’s the hotel and that’s my apartment...” Gue nggak bisa ambil keputusan. YooChun mau nggak ya?
“Hmm... Do you mind if I go with you to your apartment?” tanya YooChun.
Gue menoleh cepat. Ini anak, bukannya gue udah bilang musti gue balikin ke hotel, kok malah pengen ikut ke apartemen gue sih?
Yang diliatin malah menatap balik dengan tampang nggak berdosa.
“I want to meet Ryan, if you don’t mind.”
.... MUKANYA ITU LHOOO.
Gue jadi frustasi. Nggak mampu bilang ‘nggak’, tapi khawatir juga.
Apartemen gue tinggal lima meter di depan.
Ah sudah lah ya.
“Fine. We’ll go to my apartment,” kata gue akhirnya. Gue membelokkan mobil gue dengan pasrah. Dari sudut mata gue, gue bisa ngeliat tampang YooChun yang senyum-senyum penuh kemenangan. Ih.

Ketika gue sampai di depan tower apartemen gue dan menurunkan barang belanjaan gue dan YooChun, gue menelepon Ryan.
“Hallo, bo, dimana lu?”
“Hai hai. Gue di Citywalk seberang, lagi ngantri beli Joko,” shaut Ryan di telepon. “Lu udah nyampe?”
“Iya udah,” jawab gue. “Eh gue nitip beliin Joko juga yah, gue mau yang almond ama coklat donk, selusin.”
Joko yang gue dan Ryan maksudkan adalah sebuah merek donat yang lumayan ngetop. Kebetulan di seberang apartemen gue ada sebuah pusat jalan-jalan (alias Citywalk) yang juga punya gerai donat Joko itu.
“Ha? Tumben lu minta dibeliin Joko. Bukannya lu nggak doyan?” tanya Ryan keheranan.
“Aduh nggak usah banyak tanya deh. Bukan buat gue, buat temen gue nih lagi di sini,” jawab gue setengah ribet, soalnya sembari ngangkut plastik-plastik belanjaan gue dan YooChun, sambil megangin handphone, dan sambil mencet lift menuju apartemen gue.
“Gue jadi curiga deh ama lu. Temen lu itu cewek apa cowok sih?”
“Ryan sayaaang, udah nggak usah berisik, ntar juga gue kasih tau. Udah yah, gue ribet nih bawa barang. Lu cepet kesini aja. Oke? Yiuuk bai.”
Gue mematikan handphone gue tepat ketika pintu lift tertutup.
Gue menghela nafas dan memencet nomor 23, lantai kamar apartemen gue.
YooChun menaikkan alisnya.
“Is your friend Ryan here?” tanyanya.
“Yeah,” jawab gue. “He’s coming in a minute. He’s buying some donuts at the building nearby.”
YooChun manggut-manggut. Gue memandangi tumpukan kantong plastik belanjaan gue dan YooChun yang berserakan di lantai lift.
“Wow, we did a lot of shopping,” cetus gue setengah ketawa. YooChun ikut tertawa.
Ting! Pintu lift terbuka begitu mencapai lantai 23.
“Here we go.”
Gue dan YooChun segera keluar menuju pintu apartemen gue yang Cuma sejengkal dari lift barusan. Gue mengambil kunci dari kantong tas gue dan membuka pintu apartemen gue.
“Okay.. this is my apartment. Please come in,” cetus gue mempersilakan YooChun masuk setelah membuka pintu.
YooChun melangkah masuk sambil sedikit membungkuk. “Annyeonghaseyo...”
Gue tertawa kecil. “No one’s here.” Gue meletakkan kantong-kantong belanjaan kami di atas meja makan yang berseberangan dengan sofa tamu.
YooChun tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen gue.
“Wow, you have a very nice apartment here... Did you buy it from your work as a reporter?”
Ya elah. Kalau jadi reporter freelance gue bisa dapetin duit buat beli apartemen kaya gini, kayanya gue memilih untuk drop out kuliah dari dulu deh.
“No,” gue memutar mata gue. “My dad bought this apartment. I probably could never afford to buy this kind of suite even though I work as a freelance reporter for thousand years.”
YooChun tertawa kecil.
“Please have a seat,” ujar gue sambil menunjuk ke arah sofa. “Would you like anything to drink?” Gue membuka kulkas dan mencari minuman. “Uhmm..., I guess I only have Cola, orange juice, mineral water, and... beer?” Yap, gue menemukan beberapa kaleng bir di kulkas gue. Ini pasti punya kakak gue.
YooChun menoleh sambil tersenyum.
“Oh that’s fine, I’ll have cola, thanks.” Bukannya duduk, YooChun malah melihat-lihat sekitar ruang tamu gue. Ia tampak asyik di rak koleksi CD dan home theater gue.
“So, where are your parents?”
Gue mengambil sekaleng cola buat YooChun dan sebotol air mineral buat gue sendiri dan menghampiri YooChun di ruang tamu. “Uhmmm, my parents? They are... somewhere.” Gue berpikir sebentar sambil menghempaskan pantat ke sofa. “My mom is living out of town with her new family, and my dad is... somewhere across pacific ocean, I think. He’s a captain on a cruise ship.”
YooChun menaikkan alisnya dan ikutan duduk di sofa sebelah gue.
“Oh. I’m sorry to hear that...”
Gue mengedikkan bahu. “Don’t be. I’m not. Although we’re separated, but we’re okay.”
Raut wajah YooChun jadi lebih serius. “So you’re living alone here?”
Gue menenggak air mineral gue. Ahh, seger banget deh. “Not actually alone. I live with my step brother here if he’s around.”
“I see. And where’s your step brother now?”
“Dunno. Somewhere. He’s a musician, so he’s doing some tour across the country with his band lately.”
YooChun manggut-manggut sambil menenggak colanya. Tapi matanya nggak lepas menatap gue.
“You must be very lonely.”
“Not really,” tukas gue. “I have my friends.”
YooChun tersenyum. “Yeah, it’s a good thing you have lots of friends. I know how hard is when your parents separated, but lucky I have people around me who cares about me. And I’m glad you do too.”
Oh iya. Kalo nggak salah gue pernah baca di internet kalau orangtua YooChun juga pisah kaya ortu gue. Pantesan dia agak concern tadi. Gue tersenyum.
YooChun mengambil sebuah frame foto yang terpajang di meja kecil sebelah sofa.
“Is this your brother?” tanya YooChun sambil menunjuk foto kakak gue yang bersebelahan sama gue.
Gue mengangguk. “Yeap. Step brother. Name’s Yuki.”
YooChun mengamati foto itu. “He looks cool. Is he a boyband member too?”
Gue nyaris ngakak. “No, he’s not. He’s a bass player, and now he’s an additional bassist for a band called PanPetir. It’s a well-known band in this country, you know. Like Buzz or FTI in Korea. Although, not all the members are cute like FTI. Hahaha.”
Kalau Yuki tau dia disangka boyben oleh seorang anggota boyben, kira-kira dia bakal syok nggak ya. Hahaha. Nggak kebayang deh Yuki dan temen-temennya jadi boyben yang joget-joget gitu.
YooChun tampak sumringah. “Cool! A bass player.“ YooChun manggut-manggut. “I think I heard that band name somewhere, PanPetir.”
“They went to Korea last year for a music festival.”
“Aah, that’s right. I must’ve met them at that time, but didn’t really notice.” Ia meringis. “You must be got used to famous musicians, huh. No wonder you don’t get nervous to meet a TVXQ member.” YooChun menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.
“Idih! Narsis,” gue ketawa dan melempar bantal sofa ke arahnya. YooChun tertawa.
“But you know how musician life is. We’re hardly ever home. You must have missed your brother, right.”
Hmmm. Apa gue kangen ama Yuki? Kalau dipikir-pikir, mungkin iya. Tapi secara ya, dulu dia adalah senior gue di kampus yang paling keren sampai gue naksir setengah mati. Dan sejak nyokap gue tiba-tiba memutuskan untuk menikah ama bokapnya, pupuslah harapan gue untuk pacaran ama dia. Apalagi sekarang kita tinggal satu apartemen. Jadi kayanya gue mending nggak usah sering-sering ketemu dia deh, daripada sakit ati.
“Not really,” jawab gue pendek. Aduh, gue males ngebahas itu deh. Jadi gue memutuskan untuk bangkit dari sofa dan mengambil plastik-plastik belanjaan kami tadi.
“Hey, let’s see our shopping stuffs,” gue menggelar plastik-plastik itu di karpet sofa dan mulai duduk menggelosor.
“Oh.” YooChun ikutan duduk di karpet. Wajahnya tampak sumringah melihat kantong-kantong belanjaan yang bujubuneng banyak aje. “Whaahh we did a lot of shopping, huh!”
Kita? Elu, kali. Dari sekian banyak kantong, punya gue cuma sepertiganya. Sisanya barang belanjaan YooChun yang diborong buat anak-anak TVXQ yang lain.
Kita lagi asyik memilah-milah DVD dan baju-baju hasil ngeborong tadi ketika tiba-tiba bel apartemen gue bunyi.
TING TONG!
Gue bangkit. Ini pasti Ryan. “It’s must be Ryan,” cetus gue setengah cemas ke arah YooChun.
YooChun hanya tersenyum, lalu ikutan bangkit. “Then open it.”
Gue menghampiri pintu dengan perasaan agak deg-degan.
Gue melihat di layar security access, ada tampang cowok bule yang lagi ngerapi-rapiin rambut dengan centilnya. Ih. Nggak salah dan nggak bukan, itu memang Ryan.
“Nyari siapa, mister?” tanya gue iseng sambil memencet tombol spiker.
Yang di layar keliatan merengut. “Bukain donk, bo... Eike kepanasan nih tadi jalan kaki dari gedung seberang. Nih, tar Joko lu meleleh.” Ryan menunjukkan kantor donat Joko di tangannya.
Ya elah, jalan kaki cuma lima meter aja pake acara meleleh kepanasan. Gue terkikik geli.
Gue segera membuka pintu apartemen gue.
“Haaaaiii!”
Tampang sumringah Ryan langsung terpampang di depan pintu.
Nggak pake gue persilakan masuk, Ryan udah masuk dengan sendirinya sambil menyerahkan kantong-kantong donat Joko ke gue.
“Nih pesenan lu. Aduh, gue tadi ngantri lama bener... Udah gitu gue jalan kaki dari seberang! Mobil gue gue tinggal di Citywalk, daripada repot. Keringetan deh gue.” Ryan mengipas-ngipaskan tangannya ke wajahnya. Si cowok bule satu ini emang lebih cewek daripada cewek kebanyakan, paling nggak suka kalau keringatan.
Gue meringis dan menuju sofa ruang tamu. YooChun masih berdiri di situ. Ryan belum nyadar.
“Eh, Ry... Gue lagi ada tamu nih, tapi lu jangan kaget yah...”
Ryan yang berjalan mengikuti di belakang gue, mendadak menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak syok memandang YooChun.
“Itu... Itu..” Suara Ryan tergagap.
Gue menggigit bibir. Sumpah, gue khawatir banget nih sama reaksi Ryan.
“Ry, jangan kaget yah. Ini Micky YooChun. Tau kan, personel TVXQ...” kata gue hati-hati.
YooChun tersenyum ke arah Ryan dan mengulurkan tangannya.
“Hi. I’m YooChun. Nice to meet you,” kata YooChun sopan.
Ryan tampak ragu-ragu mengulurkan tangannya.
“O mai gat.. O mai gat... Micky YooChun...” Asli, tampang Ryan udah kaya ngeliat hantu.
Belum sampai tangan Ryan menjabat tangan YooChun, tiba-tiba...
GUBRAAAKKKK.
YAAAHHH PINGSAN DEH DIA!
“Ryan!!!”
Gue langsung meletakkan kantong donat Joko ke sebelah gue dan menghampiri badan Ryan yang tersungkur di depan YooChun. YooChun tampak kaget melihat Ryan yang tiba-tiba tumbang.
“Tuh kan apa gue bilang! Pasti heboh deh!” gue berusaha mengangkat badan Ryan. “YooChun, bantuin donk! Gue kan nggak kuat!”
Gue yakin YooChun nggak ngerti apa yang gue omongin barusan, karena gue juga baru nyadar kalau gue ngoceh pake bahasa Indonesia. Tapi YooChun cepat tanggap dan langsung membantu gue mengangkat tubuh Ryan.
“Put him on the couch,” ujar gue ke YooChun sambil berusaha mengangkat lengannya. Duh, ni bule satu badannya sih emang ceking, tapi kok berat yah.
YooChun mengangkat Ryan dari lengannya dan berhasil kita seret sampai ke sofa.
“Ry? Ry? Hoi, bangun donk, Ry,” cetus gue sambil menepuk-nepuk pipi Ryan. Udah bule, wajah Ryan kan putih banget, apalagi kalo pingsan, mukanya jadi pucat banget kaya kapas.
“I’ll get some water,” kata YooChun sambil berinisiatif menuju dapur.
Gue masih menepuk-nepuk pipi Ryan berusaha untuk menyadarkannya. Duh, gue udah menduga pasti pertemuan Ryan dengan YooChun bakal dramatis deh. Orang dulu pas dia pertama kali ketemu langsung ama Arlie (vokalis PanPetir, band kakak gue) aja sampe sesenggukan.
“Ry, bangun doonk. Norak deh luu,” cetus gue cemas dan setengah sebel.
YooChun datang dengan semangkok air dingin dan kain serbet yang dicelupkan di dalamnya. Gue memeras kain itu lalu mengelapkannya ke dahi Ryan yang masih pingsan dengan suksesnya.
Mungkin karena berasa dingin, Ryan tampak mulai sadar. Kepalanya bergerak-gerak.
“Nnngg..”
“Ry? Ry? Sadar, Ry, ini gue,” ujar gue sambil terus menepuk-nepuk dahi dan pipinya dengan serbet dingin itu.
Mata Ryan mulai terbuka dan bulu matanya yang coklat dan panjang itu berkerjap-kerjap.
“Cin...”
Ryan menatap gue dengan sorot mata masih lemah. Lalu mata coklatnya itu melihat YooChun, dan kembali terbelalak.
“Ya ampyun... Itu Micky YooChun...” Dengan agak lemas, Ryan berusaha untuk mengangkat kepalanya dan duduk tegak di sofa.
YooChun menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Are you okay?” YooChun menyodorkan segelas air putih ke Ryan (ngomong-ngomong, tu anak ngambil air di mana? Jangan –jangan dari keran wastafel juga...)
Dengan tangan gemetar, Ryan menerima gelas itu dan meneguknya dengan bantuan YooChun.
“Ya ampyuuunn... beneran Micky YooChun...”
Mata Ryan tampak berbinar-binar dan mulai berkaca-kaca. YooChun tersenyum dan meletakkan gelas itu di meja, lalu menepuk-nepuk pundak Ryan.
“Hi. Are you okay? You look very surprised, huh.”
Ryan mulai menangis sumringah, tapi kekuatannya sudah berangsur-angsur pulih.
“O mai gaaat... Micky! Tengkyuuuh...” YooChun menggenggam tangan YooChun erat-erat. “Annyeonghaseyo, nais tu mit yu!”
YooChun tertawa dan memeluk Ryan sebentar dan menepuk-nepuk punggungnya.
“Annyeong, nice to meet you too.”
Ryan kelihatan girang setengah mati sampai mingsep-mingsep. Gue menyodorkan tissue kepadanya.
“Ry, udah jangan nangis donk, malu-maluin aja ah...,” ujar gue sambil menggamit lengan Ryan.
Ryan menggenggam tangan gue dengan tangan satunya dan mengelap airmata di wajahnya dengan tangan yang lain.
“Ya ampyuun, Cin.. Kok lu bisa-bisanya sih ngedatengin Micky YooChun ke sini?” Ryan menatap YooChun dengan sumringah. “Micky, I am Ryan! I am your fan... TVXQ fan! So hepi..”
Oh, ada yang lupa gue jelasin tentang Ryan.
Walaupun bokapnya bule, dan tampangnya juga bule banget, tapi kemampuan bahasa Inggris Ryan lebih kacrut daripada anak SD. Serius. Kalau menurut pembelaan dia sih, karena sejak lahir di Bandung, maminya yang orang Sunda itu nggak pernah ngajarin dia bahasa Inggris. Lagipula orang Kanada (papinya orang sana) kebanyakan ngomong pake bahasa Prancis, katanya. Tapi kasus Ryan ini sih bahasa Inggris nggak becus, bahasa Prancis juga sama miskinnya. Dia lebih jago berbahasa AGJ (anak gaul Jakarta).
YooChun tampak tersenyum-senyum – nggak tau seneng atau grogi karena ketemu fans agak dogol macam Ryan ini.
Ryan sudah menghapus airmatanya dan mulai terlihat over excited.
“Eeehhmmm... why you in Jakarta?”
“Me?” YooChun menunjuk ke dirinya sendiri. “Oh, TVXQ is having a photoshot in Bali tomorrow. Today we just go to embassy to take care things.”
Ryan semakin berbinar. “TVXQ ke Bali??? Ya ampyuuunnn, asik beneeerrr! Berarti semua anak TVXQ skarang ada di Jakarta donk? Nggak Cuma Micky doang?” Ryan membabi buta bertanya ke gue dan YooChun.
Berhubung YooChun tampaknya kebingungan dengan bahasa Indo centil versi Ryan, jadi gue berusaha menenangkan Ryan.
“Iya, Ry, mereka lagi pada di Jakarta. Tapi inget ya, Ry, ini rahasia. Totally secret! Lu nggak boleh ngasih tau siapapun kalau TVXQ lagi ada di Indonesia. Lu bisa ditembak mati ama orang-orang manajemen mereka.”
Ryan memegang dadanya secara dramatis.
“Oh ya nggak mungkin dong, bo! Eike nggak bakalan crita ke syapa-syapah. Ahh, eike juga nggak rela kali, kalo ada yang berani towel TVXQ selama berada di Jakarta ini!” Ryan menghadap ke arah YooChun dan berkata dengan serius. “Don wori, Micky. Ryan is here, no one can touch TVXQ, oke? I will be your satpam, I injek-injek nanti siapa yang berani gangguin you. Okeh?”
YooChun tampak agak bingung tapi tetep meringis. Gue udah sakit perut nahan ketawa.
“Uhhmm, okay? What is satpam?”
“He means that he will be your bodyguard,” jawab gue seadanya. YooChun manggut-manggut ngerti.
“Oooh, yes! Yes! Bodiguard!” sambung Ryan semangat. Anak ini agak telmi sih. YooChun sampe katawa geli.
“Adyuuhh, kalo tau bakalan ketemu Micky YooChun kan eike bisa dandan lebih ganteng lagi, bo...,” Ryan mulai merapikan rambutnya lagi. “Where is your pren? TVXQ? Jaejoong? Changmin?”
“Uhm, they are at the hotel,” jawab YooChun masih dengan ramahnya. Hebat, dia nggak keliatan keder berhadapan sama bule bencong.
“Oh! Not here?” Ryan tampak agak kecewa. Tapi lalu ia menoleh ke arah gue. “Tapi ntar eike boleh ketemu ama anak TVXQ yang lain, kan ya bo?”
Gue memutar mata. “Duh, nggak tau ya, Ry. Ntar jam 5 gue musti balikin YooChun ke hotelnya. Kalo lu ikut, ntar lu pingsan lagi di depan anak-anak TVXQ. Kan gue yang repot.”
Ryan mencekal lengan gue. “Cindy, plis doonk Ciiin... Gue janji nggak bakal pingsan lagi, Cin! Syumpeh! Gue tadi cuma kepanasan dan syok aja, tapi kan skarang gue udah seger lagi, liat... Suer! Gue pengen liat mereka sebentaaarrr ajah!” Ryan mulai menghiba-hiba.
Gue meringis dan memandang ke arah YooChun yang masih senyum-senyum.
“He wants to see your other friends,” jelas gue.
YooChun manggut-manggut. “That’s okay.”
Ryan tambah sumringah.”Tuh kan! Micky aja bilang ‘oke’! Yesss, gitu donk Cin, aduh gue ngimpi apaaa semalem bisa ketemu ama cowok-cowok ganteng hari ini!”
Gue tertawa.
Selanjutnya Ryan sukses membajak YooChun dengan pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa bisa ketemu Cindy’ dan sebagainya. Ryan syok banget pas gue ceritain kalau gue ‘nemu’ YooChun di Starbucks.
“Boong ah! Gue ampir tiap hari ke Senayan Situ, tapi nggak pernah nemu barang bagus beginian! Curang!” kata Ryan. Yee, emang gue juga tau?
Dan Ryan tambah syok pas tau kalau YooChun baru gue ajak jalan-jalan ke Monas, Glodok dan Mangga Dua. Dia mulai mencaci maki gue sebagai cewek nggak berperasaan, nggak berjiwa romantis dan kenapa nggak ajak-ajak dari awal. Hahaha.
Sambil ngobrol dan memilah-milah DVD hasil jarahan YooChun, nggak kerasa udah hampir jam lima. Semua baru nyadar pas handphone YooChun bunyi. Lalu ia mulai berbicara dalam bahasa Korea di telepon.
“That was Tae Jun hyung,” cetus YooChun setelah ia menutup teleponnya. “He said I have to come back to the hotel now. All the members are already back.”
“Oh,” gue mengangguk. “Okay then, let’s wrap these things up and I’ll take you back to the hotel.” Gue melihat jam dinding, jam lima kurang seperempat. Sempet lah lima belas menit ke hotel YooChun yang cuma beda seratus meteran.
Setelah semuanya beres (gue ganti baju dulu, secara males aja abis keringetan seharian jalan dari Monas sampe MangDu), gue menawarkan YooChun untuk gue anter pake mobil. Tapi YooChun malah pengen jalan kaki aja, secara emang tinggal selemparan kolor doang. Sewaktu keluar dari gedung apartemen, berkali-kali gue ingetin ke Ryan.
“Pokoknya janji ya, Ry. Elu nggak boleh norak, nggak boleh histeris kalo nanti ketemu ama anak-anak TVXQ,” kata gue serius.
Ryan mengangguk penuh semangat. “Iyah, gue janji.”
“Nggak boleh pingsan!”
“Nggak akan pingsan, jeng.”
“Nggak boleh nangis!”
“Yo oloh, nggak bakal nangis, deeh.”
“Nggak boleh jejeritan!”
“Nggaaakk, nggak bakal jejeritan.”
“Nggak boleh pegang-pegang badannya Jaejoong.”
“Idih! Emangnya gue cowok apaan.” Ryan merengut. “Tapi kalo badannya Changmin boleh, kan.”
“Ryan!”
“Iyaa, mamih! Ih kamu lebih bawel deh daripada manajernya TVXQ.”
“Emangnya lu kenal manajernya TVXQ?”
“Nggak! Emang penting ya?”
Gue beneran pengen menendang bule kadut ini jauh-jauh.
“What are you guys talking about?” Tiba-tiba YooChun nimbrung dengan senyum lebar di wajahnya.
Ini lagi artis nyasar yang hobi cari masalah. Udah bagus gue anterin balik ke hotelnya. Kalo gue jahat kan gue simpen aja di kamar, biar diperkosa ama Ryan (aduh, kesannya Ryan kok kaya penjahat yang di TV itu yah. Bukan kok, cuma becanda. Ryan yang satu ini emang agak sinting, tapi dia sebenernya bule yang manis dan nggak berbahaya kok. Cuma nyebelin aja kadang-kadang, kalo pas kumat centilnya).
“Nothing. I just warn Ryan if ever he makes trouble, I’ll pack him with missiles to North Korea,” jawab gue asal.
YooChun tertawa. “You guys are very funny. I like hanging around with you.”
Gue nyengir doang.
Nggak nyampe lima menit, kita udah nyampe di lobby hotel Intercontinental. Seperti tadi, Tau Jun, Yeon Hee dan beberapa orang manajemen TVXQ juga berada di lobby hotel itu. YooChun langsung menghampiri dan menyapa mereka.
Setelah berbincang sejenak dengan mereka (dalam bahasa Korea tentunya, yang gue nggak ngerti apaan), YooChun memperkenalkan Ryan ke mereka.
Ryan tampak agak grogi tapi tetep girang.
“Cin, gue ga tau cara ngenalin diri pake bahasa Korea,” bisik Ryan ke gue.
“Pake bahasa Inggris aja, kali,” jawab gue sambil berbisik juga.
“Halo, I am Ryan Walsh. Nais tu mit yu. Annyeonghaseyo,” ujar Ryan semangat sambil membungkuk.
Orang-orang manajemen itu tampak ramah dan agak heran melihat tongkrongan Ryan yang bule aja.
“Annyeong haseyo,” balas mereka sambil membungkuk.
Mereka tampak menanyakan sesuatu pada YooChun, dan Yoochun mengucapkan sesuatu seperti ‘Kanada’ dan ‘Cindy’ dan ‘chingu’. Nggak tau deh. Daripada nebak-nebak.
Lalu YooChun menggamit lengan gue. “Hey, let’s take these shopping bags to my room upstairs. All the boys are there too.”
Gue menaikkan alis. Dia ngajak gue ke kamarnya? Uuuw, kok gue jadi deg-degan ya.
Cindy! Ini bukan saatnya mikir macem-macem! Gue berusaha menghilangkan pikiran aneh-aneh dari otak gue. Lagian ada Ryan pula.
“Uhm, how about Ryan?” tanya gue.
“Ya ya, Ryan come too! He said he wants to see the other boys, right? Let’s go,” ujar YooChun santai.
“Kenapa, bo?” tanya Ryan ingin tahu.
Gue menoleh ke arah Ryan. “Si YooChun ngajakin kita ke atas, ke kamarnya nemuin anak-anak TVXQ.”
Mata Ryan langsung berbinar-binar. “Assiiikk! Yuk yuk ke atas yuk! Aduh Cin gue jadi grogi banget niih!”
Gue langsung melotot. “Eh awas ya, Ry. Lu udah janji pokoknya nggak ada pingsan-pingsan, jerit-jerit atau hal-hal norak lainnya!”
Ryan balas mencibir gue. “Iya, ih! Yey kok nggak percayaan banget sih ama eike! Iya eike janjii, booo!”
Gue melengos pasrah dan membawa beberapa kantong belanjaan YooChun. “Okay, let’s go to your room.”
Setelah berpamitan dengan Tae Jun dan teman-temannya, YooChun membawa gue dan Ryan naik ke lantai tempat kamarnya dan para anggota TVXQ berada.

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 06:34 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 11

Sebenernya bukan cuma Ryan yang deg-degan bakal ketemu ama semua personel TVXQ. Gue juga. Walaupun gue nggak ngefans-ngefans amat ya ama TVXQ, tapi gue kan pecinta K-Pop. Dan mereka kan artis ngetop. Se-Asia, loh, nggak cuma artis lokal macam band kakak gue itu.
Tapi ketika lift berhenti di lantai tujuh dan YooChun membawa gue dan Ryan ke depan sebuah pintu kamar suite, gue berusaha sebisa mungkin tetep tenang dan cool. Ryan sih udah meremas-remas jari dari tadi. Gue musti waspada nih, jangan sampai bule kadut itu bikin histeria massa.
YooChun memencet bel pintu kamar suite itu.
“Ya! &@%$&(#% !” YooChun mulai ngoceh pake bahasa Korea yang bikin gue dan Ryan bengong.
Nggak berapa lama, pintu terbuka. Gue melihat seraut wajah Xiah Junsu.
“Oh! YooChun-a! &$%#&$% ? #&&@%$$%& !” seru Junsu. Kemudian ia menyadari kalau YooChun nggak sendirian, tapi ama gue dan Ryan. “Oh, &%$@* ?”
Gue dan Ryan meringis.
“Nnngg, haaaiii...”
Cuma itu yang mampu keluar dari mulut gue. Bahkan Ryan udah speechless.
YooChun tertawa dan menggandeng tangan gue (ih! Tiba-tiba tangan gue digandeng!) masuk ke dalam kamar. “Come on in, Cindy. This is our suite. Meet my friends.”
Gue dan Ryan masuk dengan groginya. Junsu meringis lebar dan menyilakan kami masuk.
“Annyeong! Naise tu mit jyu,” ujar Junsu ramah.
Di dalam suite itu, ternyata sedang berkumpul semua anak-anak TVXQ. O mai gat. Tampang-tampang yang selama ini cuma gue liat di internet, atau video, sekarang terpampang di depan mata gue. Asli. Nggak pake make-up. Nggak pake kostum aneh-aneh. Bener-bener hanya empat orang cowok (lima sih, termasuk YooChun) Korea yang ganteng-ganteng aja.
Gue melirik Ryan. Anak itu keliatannya hampir nggak bernafas saking bahagianya.
“Hi... Nice to meet you all,” cetus gue sambil meringis. Inget Cindy, tenang! Cool aja, cool! “I’m Cindy. And this is my friend, Ryan.”
Gue mencolek Ryan, dan dia langsung tersadar dan mengangkat tangannya.
“Haaaii... Ryan-imnida...I am hepi to si yu...” ujar Ryan setengah gemetar over-excited.
“Hi,” hampir semua cowok-cowok itu membalas sapaan kami. Mereka langsung menghampiri. Mereka kelihatan ramah dan agak heran sih.
YooChun menjelaskan sesuatu kepada mereka dalam bahasa Korea. Gue dan Ryan cuma bisa meringis-meringis aja.
Sementara Yunho kelihatannya menyimak penjelasan YooChun, satu persatu personel TVXQ menyalami gue dan Ryan. Dimulai dari Jaejoong.
“Hi, I’m Jaejoong.”
Gue tersenyum dan menyambut tangannya. “Hi. I’m Cindy.”
Ryan udah hampir nangis saking sumringahnya. “Haaii. I’m Ryan.” Itu kalo nggak digusur ama Changmin, kayanya tangan Jaejoong nggak dilepas-lepas ama Ryan.
“Raiyeon? Beuraiyeon? ” tanya Junsu. Kayanya dia agak nggak jelas ama pengucapan nama si Ryan.
“No, not Brian. Ra-i-yeon,” jawab Ryan menjelaskan.
“Oooh, Raiyeon!” Junsu tampaknya mulai ngerti. Dia tersenyum lebar. “I’m Junsu.”
“I’m Changmin,” ujar Changmin sambil menyalami gue. Lalu ia menoleh ke Ryan. “Are you... American?”
Ryan cepat-cepat menggeleng. “No, no... Not Amerika. My father, Kanada. But me, Indonesian.”
Aduh, bahasa Inggris ni anak kaco banget deh. Gue sampe nahan ketawa.
“Here, for you,” Ryan menyodorkan kantong berisi donat Joko yang tadi gue nitip beliin ke Changmin.
Wajah Changmin langsung berseri-seri.
“Whah! Donuts! Thank yoouuuu!” Changmin spontan memeluk Ryan. Gue melotot, memastikan Ryan nggak pingsan karena tampang bulenya itu kelihatan syok dengan bahagianya.
“Aaaaawwwhh!! It’s oke, Changmin! I love TVXQ!” seru Ryan dengan super sumringah.
Semua orang langsung mengerubuti Changmin dengan kantong donatnya. Langsung pada ribut deh. Heran ya, nggak artis atau orang biasa, kalo liat makanan kok langsung pada beringas.
“Ih, Cin, tau gitu kan tadi gue beli donatnya dua lusin sekalian!” cetus Ryan setengah berbisik ke arah gue. “Ya ampyun gue ngimpi apaaa semalem... Gue dipeluk Changmin, bo! O mai gaattt gue nggak mau mandiiii... Ini badan gue biar kerasa terus pelukannyah!”
Gue menggamit lengan Ryan. “Najis lu, kalo sampe lu nggak mandi sih gue nggak bakal mau ketemu elo lagi!”
Yunho mengajak kami duduk di sofa lounge suite itu. YooChun mulai menggelar barang belanjaannya dan semua langsung pada heboh deh.
Mereka banyak nanya-nanya ke gue dan Ryan – dengan YooChun sebagai penerjemah, tentunya – mulai dari kenapa bisa ketemu YooChun sampai kok bisa ngefans ama TVXQ.
“I love TVXQ, bikos myusik is gud.... You all very handsome,” ujar Ryan dengan semangat.
Gue sampe hampir malu deh. Tapi hebatnya, anak-anak TVXQ itu semua paham loh! Hebat. Padahal kemampuan bahasa Inggris mereka gue yakin juga nggak jauh beda ama Ryan. Hahahaha.
Yunho yang duduk di sebelah Ryan banyak nanya macem-macem ke Ryan. Dia sebagai leader kayanya care banget.
“My friend, Sassy, love Yunho very much,” kata Ryan. “Too bad she is from Europe tonight.”
“Uhm, he means that our friend Sassy is on her way back from Europe tonight. So she can’t come with us now,” ujar gue menjelaskan ke YooChun. Lalu YooChun menterjemahkannya ke dalam bahasa Korea dan semua orang pada ber “Ooooh” atau “Aaaah!” sambil manggut-manggut paham. Hihihi, kocak deh.
“Yunho, your bodi is built-up, yah,” cetus Ryan sambil memegang-megang lengan Yunho. Gue yang duduk di sebelah Ryan langsung refleks melotot. “Ry! Udah gue bilangin jugak, ga bole grepe-grepe!” sentak gue setengah berbisik. Lagian kok ‘built-up’ sih, emangnya mesin mobil!
Yang diomelin malah cuek. “Ih, tadi lu bilang kan gue ga boleh pegang-pegang Jaejoong. Kalo Yunho boleh dong. Abisnya ga tahan, bo... Badannya emang bagus banget.” Ryan menoleh ke arah Yunho lagi. “You fitnes, yah?”
Yunho meringis (entah risih atau emang ramah?). “Yes, gym, you know?” Yunho menirukan gaya orang ngangkat barbel. “Work out. &*$%@^$@.”
Ryan manggut-manggut senang. “Oohh, angkat beban yah. Sama donk, eike juga suka.”
Waduh, mereka ngomong semakin nggak nyambung deh. Tapi herannya kok satu sama lain saling paham ya.
Lumayan lama juga gue dan Ryan ngobrol-ngobrol sama anak-anak itu. Seru banget, apalagi mereka ramah-ramah dan antusias tentang Indonesia. Ryan malah dengan semangatnya mulai mengeluarkan handphone dan poto-poto sama mereka. Dan emang pada dasarnya semua banci kamera, jadi ya agak menggila foto-foto dengan berbagai pose.
Sekitar setengah jam kemudian, Tae Jun dan seorang om-om yang belum pernah gue lihat sebelumnya dateng ke suite itu. Ternyata dia manajernya TVXQ. Gue dan Ryan dikenalin oleh YooChun (sebagai temen yang udah lama nggak ketemu. Boong banget deh YooChun, tapi daripada dibilang sebagai fans yang menculik di jalan, kan lebih nggak bagus yah).
Manajer itu, Mr. Park (aduh gue lupa nama lengkapnya, abis ngomongnya cepet banget sih) bilang kalau malam ini orang-orang dari Kedutaan besar mau ngajakin jalan-jalan dan makan-makan mumpung di Jakarta. Berarti udah saatnya gue dan Ryan pamit.
“Okay then,” kata gue ke YooChun. “Then Ryan and I will go back to my apartment.”
YooChun menaikkan alisnya. “Oh? Why do you want to go?”
Gue memandang YooChun. Gimana sih. “Because you and your friends and manager will go out, right?”
YooChun memandang managernya sebentar lalu memandang gue lagi. “Right. But why don’t you come with us?”
Ha? Pergi ama elu lagi???
“What?”
YooChun kemudian berbicara kepada manajernya dalam bahasa Korea. Aduh gue nggak ngerti deh.
“Kenapa sih, bo?” tanya Ryan setengah berbisik.
“Mereka kan pada mo pergi, jadi kita kayanya musti pulang deh,” jawab gue sambil ikutan berbisik.
“Yaah, kok pulang sih? Nggak boleh ngikut pergi ama mereka yah?” rengek Ryan.
“Ryan, ih! Jangan ganggu acara orang, doonk. Lagian kan ada manajer dan orang-orang kedutaannya. Kita mana bisa ngikut-ngikut,” cetus gue.
Lalu para TVXQ itu mulai ikutan ngomong dalam bahasa Korea. Aduh, gue dan Ryan serasa anak ilang yang terjebak di tengah-tengah negeri asing gitu. Hihihi.
“See, everyone said you should come with us,” kata YooChun tiba-tiba ke gue.
“Huh?” gue bengong. Sejak kapan mereka memutuskan kaya gitu? “How come?”
YooChun mengerling dan tersenyum. “Because you are my friends. And besides, we will go with some Indonesian people from the embassy. I think if you go with us, you can take us to interesting places.”
“Mereka mau kita ngikut yah? Iya, Cin?” Ryan udah girang banget sampai narik-narik lengan baju gue.
Gue melirik setengah sebel ke bule genit di sebelah gue ini. “Iye. Lu mau?”
“Ngikut pergi ama mereka? Ya iyyya laah, masa ya iya dong! Ama TVXQ gityu looh! Masa gue nolak!” Ryan bersemangat (pake banget). “We go together? Ooohhh so heppiii!!”
Semua pada ketawa. Tinggal gue yang bingung. Kok gue jadi pergi seharian ama TVXQ yah?
“So?” YooChun tersenyum ke arah gue. “You’re okay to go with us, right?”
Gue menggigit bibir. Nnnggg..... jalan bareng sama anak-anak TVXQ?
Siapa yang rela nolak???
“Sure,” gue tersenyum. “I love to go out with you guys.”

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 06:36 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Scene – 12

Kalau tadi seharian gue menculik YooChun dan membawanya ke tempat-tempat yang nggak lazim buat seorang artis Korea, kali ini giliran gue yang ‘diculik’ sama anak-anak TVXQ itu, dan gue berharap bakal pergi ke tempat yang lebih bagus daripada semua tempat yang gue datangin tadi.
Setelah bersiap-siap dan pada ganti baju, cowok-cowok ganteng itu membawa gue dan Ryan turun ke lobby dan bertemu dengan empat orang dari rombongan staf mereka plus tiga orang Indonesia yang rupanya adalah staf kedutaan besar Korea Selatan. Banyak banget. Gue tanya ama YooChun ke mana arah tujuan kali ini.
“Don’t know,” jawab YooChun sambil mengedikkan bahu. “Why don’t we talk to those Indonesian embassy people,” ajaknya sambil menggandeng tangan gue (lagi-lagi) dan mendekat ke arah para staf kedutaan. Ryan ngintil di belakang gue.
“Excuse me,” sapa YooChun ramah kepada para staf itu. “These are my old friends from Indonesia. They will come with us tonight.”
“Malam, Pak,” sapa gue. “Saya Cindy, dan ini Ryan.”
Tiga orang bapak-bapak (sebenernya sih kelihatannya masih umur 35-40an. Om-om lah) itu tampak terheran, tapi lalu menyalami kami.
“Oh, saya Hari dari atase kebudayaan,” ujar seorang om-om yang paling tinggi dan wajahnya ramah banget. “Ini Pak Yudi dan Pak Setyo dari Kedubes.”
“Wah, dik Cindy ini sudah lama berteman dengan YooChun?” tanya Pak Setyo.
Gue meringis. “Yaah, lumayan Pak, hehehe.” Sekitar delapan jam, batin gue. Ryan menyela, “Oh kita mah udah kenal lama Pak, sejak mereka baru debut jadi artis.”
Gue sampe perlu mencubit lengan Ryan diam-diam. Anak ini kalo terlalu semangat ntar bisa-bisa malah hiperbolis.
“Oh, dik Ryan ini bisa bahasa Indonesia, toh?” tanya Pak Hari agak heran. “Saya pikir bule asli.”
Ryan meringis dan tersipu-sipu (idih banget). “Bisa kok Pak, saya orang Indonesia asli lho. Walaupun Papa saya orang Kanada, tapi sejak kecil saya tinggal dan sekolah di sini. Jadi jangan samain saya sama artis-artis blasteran yang bahasa Indonesianya nggak beres ya, Pak. Logat saya asli Jakarta, nggak pake bechek-bechek English.”
Pak Hari manggut-manggut, sementara gue udah ngikik menahan ketawa. Gue tahu betapa sebelnya Ryan sama artis-artis blasteran Indonesia yang suka ngomong campur aduk Indonesia dan bahasa Inggris dengan logat yang agak ajaib.
“Uhmm, so where are we going tonight, sir?” tanya YooChun.
Yo oloh gue hampir lupa kalo tujuan utama YooChun menggeret gue ke orang-orang ini kan mau nanya hal itu.
“Well..., we will have some dinner and just hang out,” jawab Pak Hari. Lalu ia memandang gue. “Mungkin dik Cindy ada usul? Karena kan adik yang sudah lama berteman dengan YooChun dan para personel TVXQ. Saya kan nggak terbiasa dengan anak-anak muda Korea, apalagi artis.”
Nah loh. Gue bingung. Kalo dipikir-pikir, gue juga nggak terbiasa jalan-jalan sama artis Korea, Pak!
“Emangnya Bapak rencananya mau ngajak makan di mana, Pak? Tanya Ryan.
“Ehm, tadinya saya pikir mau ajak mereka makan di restoran Korea, supaya mereka merasa seperti di rumah sendiri, begitu. Atau ada ide lain?” Pak Hari malah balik nanya.
“YooChun, would you prefer Korean food or any other restaurant?” tanya gue ke YooChun. Yang ditanya malah cuma senyum-senyums ambil mengedikkan bahu. “I think we’ll fine with any place.”
Yah elah. Jangan gue yang milih tempat lagi deh, bisa kacau ntar.
“Sebenernya sih yang paling penting ya Pak, kita musti cari tempat yang aman dari ABG-ABG yang kemungkinan besar tahu TVXQ. Karena kedatangan mereka ke Indonesia kan rahasia, jadi kita nggak boleh ke tempat-tempat yang terlalu ramai,” cetus gue ke Pak Hari.
Pak Hari manggut-manggut. “Oh ya ya benar juga. Kalau kita datang ke restaurant Korea, malah takutnya nanti ketahuan oleh orang-orang Korea itu ya. Hmm, mungkin kita cari restoran khas Indonesia aja?”
“Pak, saya usul,” Ryan tiba-tiba unjuk jari. “Gimana kalau kita makan di restoran Jepang aja Pak? Kan anak-anak TVXQ juga tinggal di Jepang, pasti mereka juga terbiasa ama makanan jepang. Daripada dikasi makanan Indonesia, ntar kalo nggak cocok dan sakit perut, kan gawat tuh.”
Bener juga. Apalagi mereka mau photoshoot besok. Kalau sampai mereka sakit perut gara-gara makan sambel terasi, kan nggak lucu kalau kita disalahin.
“Oke juga kayanya. Ya udah, kamu ada rekomen tempat yang bagus?” tanya Pak Hari.
Ryan tersenyum lebar.
“Oh tentu dong, Pak... Jangan khawatir, saya nggak bakal ngajak ke tempat-tempat yang ajaib kok. Kita kan bawa artis.”
Entah kenapa kok rasanya gue disindir ama Ryan, ya. Dan kalau melihat lirikan matanya yang nyebelin itu, rasanya gue emang harus menggetok kepala si bule kadut ini. Cih.

Akhirnya dua mobil rombongan staf TVXQ (plus gue, Ryan dan staf kedutaan) meluncur menuju pusat Jakarta. Ryan mengusulkan untuk makan di sebuah restoran Jepang yang ada di sebuah mall di SCBD. Untungnya mall itu termasuk mall yang nggak rame-rame banget, kebanyakan para ekspat dan orang-orang kantoran yang suka nongkrong di situ. Jadi masih aman lah.

Selesai makan, tiba-tiba Ryan punya ide ajaib lagi.
“Pak, mau nonton pilem nggak?” tanya Ryan kepada Pak Hari dan kawan-kawan.
“Ha? Hm... Saya sih nggak keberatan. Tapi gimana dengan rombongan yang lain?” tanya Pak Hari balik.
“Aduh, Bapak tanyain deh ke mereka. Saya kan nggak bisa bahasa Korea, Pak.”
Pak Hari menanyakannya kepada Mr. Park, manajer TVXQ. Gue menggamit lengan Ryan.
“Ry, kok lu tiba-tiba ngajakin nonton sih?” tanya gue setengah berbisik.
“Abisnya... Di lantai atas kan ada Blitz. Lagian daripada cuma keluyuran shopping, tadi siang kan udah. Masa abis ini langsung balik,” jelas Ryan.
“Iya, tapi kan mereka besok mau ke Bali. Nggak bisa malem-malem kali.”
“Ah coba aja tanyain dulu ama Mr. Park. Kalo dia oke kan nggak masyalah.”
Ternyata pendapat Mr. Park sama kaya gue. Karena rombongan TVXQ harus ke Bali besok pagi, jadi nggak boleh malem-malem juga balik ke hotelnya. Tapi ternyata Park Tae Jun – gue baru tahu kalau dia adalah PD dan fotografer mereka – malah menyambut usul Ryan.
“Aduh, kebetulan lho Pak... Kan lagi ada pilem Indonesia yang lagi ngetop banget sekarang,” Ryan mulai merayu Pak Hari. “Sekali-kali kita tunjukkin dong pilem hasil karya orang Indonesia, nggak cuma kita aja yang hobi nonton pilem Korea.”
Anak ini beneran tukang rayuan gombal ternyata. Karena Pak Setyo dan pak Yudi udah setuju aja, ditambah dengan Tae Jun-ssi yang kayanya antusias banget.
“I like watching movies!” YooChun ikutan semangat. “So what’s the movie?”
“Oh, Indonesian movie, YooChun,” jawab Ryan berapi-api. “Very good movie!”
Akhirnya Mr. Park ngalah dan membawa rombongan sirkus ini ke Blitz Megaplex di lantai atas.

Tapi eh tapi ternyata, agak nyesel deh gue menyambut usul dogol si bule ajaib ini. Tadi dia dengan semangatnya promosi ke anak-anak TVXQ itu kalau kita bakal nonton film asli Indonesia yang keren banget, nggak kalah ama film-film Korea. YooChun dan Jaejoong sampe udah antusias banget.
“&!^*@%%!%^%^%@$# ??” tanya Jaejoong kepada Ryan, yang disambut dengan muka melongo alias nggak mudeng.
YooChun tertawa. “Jaejoong hyung asked, is there any beautiful actress in this movie? Is she famous in here?”
“Oh yes, yeesss.... Byutipul, dooonk! Very famous!” jawab Ryan dengan yakinnya.
“Ry,” gue menggeret Ryan mendekat. “Elu mau ngajakin kita nonton apa sih?”
Ryan Cuma senyum-senyum penuh arti. “Adda deehh! Pokoknya keren lah! Awas ya bo, entar eike mau duduk di sebelah Changmin.”
Oke. Kalau gitu Changmin harus gue selamatkan.
Tapi begitu kami duduk nyaman di bangku-bangku VIP class bioskop ini dan filmnya mulai, gue terkaget waktu menyadari film apa yang dia pilih.
“Eh, kutu! Apa-apaan nih film!” seru gue (nggak pake sensor) sambil mencengkeram lengan Ryan.
“Ini film yang lagi ngetop sekarang, lah! Kenapa sih lu?” Ryan berkilah sambil mulai mengunyah pop corn. “Tuh, lu nggak baca judulnya?” Ryan menunjuk ke layar yang sedang menayangkan opening title. “TISOK, Mati Besok! Ini sekuel dari film Tiren, tauk! Lebih keren!”
“Iya gue tau ini film lagi ngetop. Tapi apa nggak ada film lain? Kenapa film horor siiihh?!?!?!??”
Gue kan benci banget film horor! Apalagi horor Indonesia! Bener-bener deh ni bule sakit jiwa.
“Eh, bo, ini kesempatan kita buat nunjukkin ke orang-orang Korea itu, kalo film Indonesia nggak kalah kerennya dari film Korea. Lu liat aja, selama ini orang suka nonton Ju-On, The Phone, apalah... Sampe dibikin versi barat pula. Nah, skarang liat donk, Indonesia juga punya setan yang nggak kalah seremnya!” Ryan menunjuk ke layar lagi. “Tuh, liat aja, bentar lagi kuntilanaknya pasti nongol.”
Gue udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi deh. Gue beneran takut banget ama film horor, jadi gue nggak mampu memandang ke arah layar. Gue melihat ke arah anak-anak TVXQ. YooChun dan Junsu yang duduk di sebelah kiri gue tampak agak syok. Di sebelah Junsu ada Yunho yang malah udah nyungsep di belakang punggung Jaejoong yang kelihatan nyimak banget dan ribut berkomentar sama si om Tae Jun dan Changmin (slamet deh, Changmin duduk di sebelah Jaejoong. Jauh dari tangan Ryan). Kayanya mereka nggak takut, atau belum nyadar aja kalo ini film horor? Dan mereka mulai heboh pas adegan kuntilanaknya muncul tiba-tiba. Untung aja ini VIP room, jadi nggak ada penonton lain selain rombongan kita. Berisik banget nontonnya.
Gue melihat ke sebelah kanan Ryan, tiga bapak-bapak dari kedubes dan staf-staf TVXQ lainnnya juga kelihatannya nyimak bener.
Emangnya yang takut nonton film horor tuh cuma gue, ya???
“Bo! Bo! Liat bo!” Ryan mulai mengguncang-guncang lengan gue dengan heboh. “Itu ada pocong nongol di belakang si ceweknya! Kyaaa!!!”
Gue menggaplok tangan Ryan sebel.
“Dudut ya lu! Nggak bakalan gue liat!” sembur gue. “Lagian katanya ada artis cakep yang maen. Kalo kaya gini, siapa yang bisa diliat!”
“Eh, itu yang jadi kuntilanaknya si Lina Maria, ceweknya Arlie PanPetir! Liat donk makanya,” kilah Ryan. “Banyak artis ngetop main di sini. Tuh, yang jadi pocongnya aja si Mora Tudiro. Nggak nyangka kan ganteng gitu jadi pocong? Trus tuh ada Tuti Kemul, Sebastian Tugiono, Cicha Lora,-”
“Emang gue peduli!” potong gue kesel. “Kalo semuanya didandanin kaya setan gitu, walopun seganteng Sebastian Tugiono juga tampangnya tetep genderuwo!”
Akhirnya ketika film horor berdurasi satu jam lima belas menit itu selesai, gue udah capek jerit-jerit ketakutan dan memaki-maki bule bencong yang sering banget meremas-remas lengan gue dan mengagetkan dengan teriakan-teriakan nggak penting (contohnya “Aduuhh Cicha awaass yey ketiban pocoooonngg!!” “Iiihh najong mas Mora dicium kuntilanaaakkk! Dicium gue ajaaa!!”, yah semacam gitu deh).
“Bagus banget yah pilemnya,” komentar Ryan dengan wajah berseri-seri saat keluar dari bioskop.
Bagus dari Hongkong. Gue sama sekali nggak nangkep jalan ceritanya, secara yang gue liat dari awal cuma seorang cewek setengah bule dan seorang cowok ganteng yang dikejer-kejer oleh berbagai jenis setan lokal. Itu adalah film paling nggak penting, nggak guna dan nggak mutu yang pernah gue tonton. Satu-satunya hiburan gue di dalam bioskop itu adalah menyadari bahwa gue nonton film ini bareng-bareng ama anak-anak TVXQ dan YooChun duduk di sebelah gue, yang sesekali menyodorkan ember popcorn dan gelas pepsinya ke gue dan ngetawain tampang gue yang udah pucet panik dengan pertanyaan “Are you okay?” –nya yang jelas-jelas pertanyaan retoris alias nggak perlu dijawab. Udah tau gue lagi jejeritan, ditanyain ar yu oke pula! Dan beberapa kali pula YooChun menutupi mata gue dengan tangannya (maksudnya sih mungkin biar gue nggak ngeliat setannya, tapi biasanya telat. Kuntilanaknya udah nongol, baru dia nutupin mata gue). Yang kaya gitu tuh yang bikin gue lebih deg-degan daripada nungguin adegan setannya nongol.
Herannya, para bapak-bapak kedutaan itu kelihatannya sependapat dengan Ryan. Mereka malah memuji-muji akting para artis di film itu, dan keliatan banget kalau mereka ngefans sama si pemeran kuntilanak alias si Lina Maria. Kalau nggak, nggak mungkin mereka bisa-bisanya berkomentar, “Kuntilanaknya cantik yah. Rambutnya bagus, sayang aja matanya berdarah-darah dan kakinya buntung.” Please deeehh.
YooChun senyum-senyum memandang gue.
“You don’t look so happy after watching that movie,” ujarnya.
Gue mendelik. Hepi? Tolong ya.
“I hate scary movie. And I hate that Ryan dork.” Gue memandang Ryan dengan tatapan bengis.
YooChun tertawa dan menepuk-nepuk kepala gue. Ih, pegang-pegang...
“Actually I don’t really like scary movie. But this one is good, because I watch it with lots of people. And I found out Indonesian ghost stories are scary just like Korean too,” cetus YooChun. “But you look paler than Yunho hyung, hahaha.”
Gue menoleh ke arah Yunho. Emang sih tampang dia kelihatan pucet, tapi sekarang dia masih bisa ketawa-ketawa sama Jaejoong dan Changmin membahas adegan-adegan film tadi. Jaejoong menirukan gerakan kuntilanak dan Junsu kayanya ngefans bener ama pocong, yang disambut dengan ngakaknya Changmin dan om Tae Jun. Elu enak bisa ngakak. Coba aja hidup di Indonesia dan tinggal di gedung yang tadinya bekas kuburan Belanda. Gue yakin nggak bakal bisa tidur seminggu.
“Are you okay now?” tanya YooChun sambil masih memegang kepala gue. Aduh, gue jadi deg-degan lagi.
Gue mengangguk. “Yeah, fine. But your friends seem like it.”
YooChun mengajak gue mendekat ke arah Yunho dan kawan-kawan. Jaejoong langsung ribut nyerocos pake bahasa Korea, yang disambung dengan Changmin dan Junsu. Lalu Yunho kayanya agak memprotes sesuatu. Pusing deh gue.
“Jaejoong hyung said the movie is great, he asked you to inform him when the DVD comes out. So he and Junsu could buy it and play it again in our apartment,” jelas YooChun setengah tertawa. “But I don’t think Yunho wants to see those kind of things again. It such a thriller.”
Gue meringis. Thriller? Itu horor, hooooi, horoooorr!

***


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
ChibiChick
Posted: Jun 28 2009, 06:47 PM


FF Nazi


Group: Admin
Posts: 211
Member No.: 2
Joined: 28-October 04



Chapter – 13

Berhubung besok pagi rombongan TVXQ itu udah pada minggat ke Bali, jadi Mr. Park menyuruh anak-anak itu semua langsung kembali ke hotel dan beristirahat. Para bapak-bapak kedutaan itu juga pamit pulang karena besok juga akan ikut mendampingi di Bali.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Jaejoong kelihatan masih bersemangat membahas film tadi dan banyak nanya-nanya (dengan YooChun sebagai penerjemah, tentunya) apakah setan kaya gitu beneran ada di Indonesia. Ryan dengan antusias menjawab semua pertanyaan Jaejoong dan Junsu dengan bahasa Inggris maksanya. Mau nggak mau gue musti ngejelasin lagi ke YooChun, dan YooChun menerjemahkannya ke anak-anak lain. Adoh capek banget deh.
“Are you tired?” tanya YooChun smabil tersenyum ke arah gue. “You don’t talk much tonight.”
Gue meringis. Capek? Nggak juga sih. Gue cuma masih syok abis nonton film horor tadi aja.
“No,” jawab gue. “It’s just the horor movie are still hanging in my head.”
YooChun tertawa. “Well, don’t think about that movie. Just think about me and TVXQ boys. Who knows, after tonight, you’d become a TVXQ fan too.”
Giliran gue yang ketawa. Ini orang usaha banget deh. Junsu kelihatanya menanyakan sesuatu kepada YooChun yang dijawab lagsung olehnya. Lalu Junsu mengucapkan sesuatu yang membuat anak-anak itu tertawa dan Jaejoong menggaplok tangan Junsu sambil pura-pura ngomel.
“Junsu said, if you want to forget the scary movie, just think about Jaejoong hyung as the female ghost. He could be prettier and scarier,” cetus YooChun disela-sela tawanya.
Gue ngakak. Kebayang deh Jaejoong jadi pemeran kuntilanak, pasti yang ditakut-takutin malah minta tanda tangan.
“Iiih, kalo Jaejoong jadi kuntilanak, eike pasti rela dipeluk-peluk sampe mati juga!” samber Ryan langsung. Tuh kan bener. “Jaejoong, if you ghost, I follow you deh!”
Jaejoong tampak agak bengong mendengar kalimat Ryan yang nggak beres itu. Baru setelah gue terjemahkan, dia mendekati Ryan dan pura-pura akan mencekiknya. Ryan, tentu aja, udah jerit-jerit kesenengan (najis banget deh tu anak).

Karena mall tadi itu cuma selemparan kolor dari hotel tempat TVXQ menginap, tentu aja nggak sampai setengah jam kita udah nyampe lagi di hotel.

“So… this is it,” cetus gue sewaktu kita sudah sampai di lobby hotel.
YooChun memandang gue. Gue nggak ngerti sih maksud pandangannya itu.
“Hmm.. I guess I have to say thanks for spending your day with me,” ujar gue agak kikuk. Duh, musti ngomong apa lagi ya? “I will go back to my apartment then.”
“You’re leaving now?” tanya YooChun.
Ya iyalah, masa gue mau ikutan nginep disini?
“Yeap,” jawab gue.
YooChun terdiam dan (masih) memandang gue. Doh, bikin grogi aja nih orang!
“Cindy, thanks for today. I’m having a great time with you,” ujar YooChun pelan sambil tersenyum.
Gue ikutan senyum.
“Yeah, me too.” Gue mengulurkan tangan gue untuk salaman. “Have fun in Bali tomorrow.”
YooChun menyambut tangan gue, dan tiba-tiba ia mendekat. Lho, gue malah dipeluk!
“Thank you,” ujar YooChun pelan.
Gue agak gelagapan. Kaget banget gue tiba-tiba dipeluk. Gue Cuma bisa diam dan menunggu sampai ia melepaskan pelukannya.
YooChun masih tersenyum dan menepuk pundak gue. “You must be very tired going out with me all day. You should take a rest,” ujarnya.
Gue mengangguk. “Yeah. You too.”
Kenapa gue jadi ga bisa ngomong apa-apa gini ya?
“Can I contact you later?” tanya YooChun.
“Oh, sure.” Gue meringis berusaha menghilangkan grogi gue. “You can call or email me anytime. I mean, if you’re not busy. I mean, you guys must be very busy in Korea or Japan. “ Yak, gue udah mulai meracau, sodara-sodara…
“I’ll call,” cetus YooChun. “I’ll send you email. I won’t be too busy to do that.”
Gue menelan ludah dan mengangguk.
“Okay.”
Entah kenapa tenggorokan gue rasanya keriiiing banget. Gila, susah banget ngeluarin suara.
“Will you…” YooChun memicingkan matanya ke arah gue dan tersenyum, “… Consider TVXQ as one of your favorite group? After all, you have all our CDs.”
Gue melotot. Ini orang, sampe detik-detik terakhir pun masih usaha, ya? Lagian sok tau bener dia…
“I saw it in your CD shelf in your apartment,” sambung YooChun seolah-olah menjawab protes di otak gue.
Mau nggak mau gue tertawa. Ternyata diam-diam dia beneran mencari CD TVXQ di rak CD di apartemen gue.
“Fine,” jawab gue setengah tertawa. “I’ll consider TVXQ as one of my favorite group.”
“Number one?”
“Hmm. You better pray for that.”
YooChun menjentikkan jarinya. “I’ll pray, then.”
Satu persatu personel TVXQ menghampiri gue dan menyalami gue dan Ryan.
“Thank you,” ujar Yunho sambil tersenyum.
Wah! Yunho ngomong pake bahasa Inggris! Gue yakin cuma itu doang yang dia sanggup omongin, hahaha.
Setelah itu Jaejoong, Junsu, dan ChangMin mulai bergiliran menyalami tanda perpisahan.
“Hikkkss.... TVXQ i lop yuuuu...” Ryan udah mulai hampir nangis.
Gue mulai memandang Ryan dengan was-was. “Ry... Ga usah pake nangis deehh... Kaya anak kecil aja,” cetus gue dengan suara rendah biar nggak kedengeran.
“Tapi tapi... Eike kan sedih, bo.... Cuma sehari ini doang gue bisa jalan bareng TVXQ.. Apalagi dipeluk Chang Min.... Ooohhhh...” Nah, nah, tuh kan. Ryan mulai bertelenovela.
Dengan nekatnya Ryan mulai memeluk ChangMin.
“ChangMin! Don’t forget me, yah! I am your fan!” seru Ryan sambil memeluk ChangMin erat.
ChangMin tampak kaget, tapi lalu tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Ryan.
“Yes, yes, okay,” kata ChangMin sambil pelan-pelan berusaha melepaskan diri dari Ryan. Gue segera menarik tangan Ryan sebelum ChangMin gelagapan kekurangan oksigen.
“Udah, Ry, anak orang jangan dibekep, ntar mati.”
Gue menarik Ryan mundur sementara Ryan mulai mengelap matanya yang basah.
“Okay then,” gue meringis. “have a good time tomorrow. Bye.”
Gue harus segera cabut dari tempat ini, sebelum Ryan mulai membuat adegan perpisahan ala sinetron India.
Gue melangkah menuju pintu lobby. Tapi entah kenapa, mata gue nggak bisa lepas dari YooChun yang sedari tadi juga ngeliatin gue mulu.
Gue masih memandang YooChun sampai gue akhirnya memalingkan muka dan menuruni tangga lobby.

Huahh.
Saatnya pulang. Cukup sudah seharian ini gue bersama dengan YooChun, dan juga anak-anak TVXQ. Gue nggak pernah menyangka, ternyata menyenangkan juga.
Gue melangkahkan kaki gue menuju apartemen gue dengan Ryan yang berusaha mengeringkan matanya.
“Bo,” cetus Ryan. “Gue balik langsung deh ya, daripada gue disini terus, yang ada gue ga mau pergi sampe gue ngeliat wajah Changmin lagi.”
Gue tersenyum.
“Mendingan lu pulang gih. Udah malem juga. Ntar malem Sassy pasti nelpon kita.”
“Oh iya... Sassy. Sayang ya dia nggak ada di sini bareng kita hari ini,” desah Ryan setengah kecewa.
Gue tersenyum sambil menepuk pundak Ryan.
“Nggak apa-apa. Dia juga mungkin ga akan percaya kalo kita ceritain. Besok kita ke rumah dia aja, sekalian kasihin poto-poto dan tandatangan dari TVXQ.”
Ryan manggut-manggut setuju.
“Oke deh, jeng. Eike balik dulu yaah.” Ryan menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi gue. “Nite nite, Cindy. Tengkyu yah udah ngajakin gue hari ini.”
“Nite nite, Ry. Ngimpiin ChangMin ya ntar malem,” ujar gue.
“Oh! Pasti lah, jeng. Nggak Cuma ChangMin, Jaejoong juga! Semuanya deh! Kecuali YooChun... kayanya dia buat elu aja deh, bo.”
“Idih, kenapa musti YooChun buat gue?”
“Karena kayanya dia paling cucok ama you.” Ryan tersenyum. “Kalo dia bukan artis, eike yakin dia pasti udah PDKT ama you.”
Gue tertawa.
“Mulai ngaco deh lu. Udah udah sana pulang. Gue masuk juga.” Gue melambai ke arah Ryan yang melangkah menuju parkiran Citywalk. “Bye, Ry.”
“Bye, Cin.”
Gue memandangi punggung Ryan yang menghilang di pintu Citywalk. Gue berbalik dan menuju apartemen gue. Sebelum itu, gue sempat memandang ke arah hotel tempat YooChun dan teman-temannya tadi.
Hmm. Kalau Sassy denger cerita gue ini, mungkin dia nggak bakal percaya. Gue tersenyum-senyum sendiri.
Memang semua ini seperti mimpi di tengah liburan.
Terserah deh mau percaya atau nggak. Ya kan?

***

This is the end of part one biggrin.gif
Thank you for reading, will continue to part 2. Huhuy!


--------------------
Send Private MessageSend emailUser website
0 User(s) are reading this topic (0 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic OptionsPages: (5) [1] 2 3 ... Last »


Skin created by Tariq. of the IF Skin Zone.

Hosted for free by InvisionFree (Terms of Use: Updated 7/7/05) | Powered by Invision Power Board v1.3 Final © 2003 IPS, Inc.
Page creation time: 0.5151 seconds | Archive